Rabu, 09 September 2020

Garis Jodoh Tuhan


Jodoh bukan perkara siapa cepat dia dapat, dia bukan sebuah perlombaan, karena jodoh itu layaknya kematian, yang datangnya tidak dapat ditebak. Pun tentang manakah yang akan lebih dulu menjadi jodoh kita, seseorang yang akan membersamai ibadah terlama kita, atau kematian? Sungguh, kita tak akan mampu menerka. 
Terkadang Alloh senang mengajak kita bercanda (atau sebenarnya kita yang tidak serius ketika bermunajat kepada-Nya???)
Alloh hadirkan seseorang yang begitu memikat hati, hingga kemudian hati kita condong kepada seseorang itu, namun kemudian Alloh patahkan perasaan² itu, tak peduli seberapa lama perasaan itu telah singgah dan kira rangkai sedemikian rupa. Toh, jika Alloh berkata tidak, mau bagaimanapun kita berusaha, hasilnya akan tetap tidak. Tp bukan berarti Alloh tidak hiraukan usaha kita, hanya saja, mungkin ada sesuatu hal yang Alloh mau kita mengerti, entah apapun itu. Wallohu a'lam.. Yaa mungkin memang seseorang yang kita dambakan itu orang yang baik, dan kita udah yakin dia bakal jadi jodoh yang baik untuk kita, tapi ya gimana yaa, ternyata kata Alloh dia memang orang baik, hanya saja bukan yang baik untukmu dan hidupmu. Kan Alloh yang lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Udaah...yakini aja itu 😊 karena dibalik semua itu pasti sudah Alloh siapkan yang lebih baik dari yang terbaik. 😇
Terkadang juga Alloh memang hadirkan sosok yang selama ini kita harapkan memang benar untuk kita, hanya saja, selalu ada cara-Nya untuk membuat kita masih tetap lama dalam penantian yang tak kunjung tau, apakah benar dia atau bukan? Hmm.. Yaa itu memang serangkain cara indah Alloh mempersatukan hamba-Nya, dengan cara membuat kita bersabar dalam penantian, tak lupa untuk tetap berdoa (meskipun rasa capek [berdoa] mulai muncul), tapi entah mengapa kita masih saja ngeyel berdoa dengan doa dan harap yang sama, dan Eh..akhirnya terjawab dengan dipersatukannya kita dengan sosok yang kita harapkan itu. Ahh....rencana Alloh sampe bikin kita nantinya ga bisa berkata². 🤗
Ada juga yang kita nggak pernah mengharapkan hadirnya dia, kita nggak kenal sama sekali dengan dia, tau² ternyata selama ini dia sudah menjadi pengamat kita dari jauh. Kita terlalu sibuk dengan perasaan dan rutinitas kita, sampai² tak menyadari adanya seorang pengamat rahasia itu. Setiap sujud dan Fatihahnya dia ada nama kita, tapi kita nggak tau. Yang kita tau, tiba² setelah dia udah yakin sama kita dan perasaannya, tau² dia datang dan gak tau kenapa kita yang sama sekali nggak kenal dia, saat itu juga Alloh mantapkan hati kita untuk siap membersamainya dalam beribadah terlama itu. Tuuhkan, bisa nggak tuh menjelaskan gimananya? Ya nggak bisa lah. Soalnya emang itu udah takdir yang Alloh tetapkan untuk kita. Nggak bisa berkata² lagi untuk yang ke sekian kalinya dari semua rahasia² Alloh.. 😊
Dan lebih bercandanya lagi... Kadang Alloh jadikan lisan "guyonan" kita menjadi kenyataan. Haa?? Maksudnya gimana ini?? Wait..wait... 
Hmm..gimana yaa? Ya gitu, entah datangnya darimana, tiba² Alloh gerakkan lisan kita untuk turut bercanda soal jodoh. Alloh buat kita membicarakan seseorang, yang namanya pun tak pernah terpikirkan menjadi pasangan hidup kita, Alloh buat kita membercandai nama itu menjadi jodoh kita, padahal sebenarnya ketika kita membahas tentangnya hati kita woles² aja, sama sekali enggak mengharapkan dia, bahkan mungkin disaat itu kita lebih mengharapkan seseorang yang lain. Tapi ya namanya juga takdirnya Alloh, siapa yang tau? Yakaan? Tau² bukannya seseorang yang lain yang memang kita harapkan hadirnya yang datang menjemput kita, tapi malah dia yang kita buat "guyonan" tadi, yang bahkan tidak kita kenal betul siapa dia, bagaimana dia, dan apapun tentang dia. Kenapa ya? Aah.. Itulah takdirnya Alloh. Tau² di Lauhul Mahfudz memang nama dia yang bersanding dengan kita. Lagi² Alloh membuat kita tidak bisa berkata². Yaa gimana nggak speechless.. 😂

Ya udah... Pada akhirnya kita akan berjodoh dengan takdir yang Alloh tetapkan untuk kita, dengan jalan yang memang Alloh ridhoi.
Terpenting, jangan kita lelah berdoa dan selalu khusnudzon terhadap segala ketetapan yang Alloh berikan kepada kita, karena Alloh senang mendengar doa² kita. Alloh senang kita berharap kepada-Nya. Ingat, "Alloh itu sesuai prasangka hamba-Nya". Makanya selalu khusnudzon ke Alloh. Selebihnya biar Alloh yang atur. 
Toh kalaupun yang terlebih dahulu datang kepada kita bukanlah jodoh kita (melainkan kematian), jangan lupa juga, barangkali Alloh memang siapkan jodoh kita enggak di dunia, tapi di surga-Nya kelak. 😇
So, jangan suka ngasih pertanyaan "kapan nikah?" kepada yang masih dalam kesendirian. Silakan tanyakan itu kalo kalian udah nyiapin calonnya, biaya pernikahannya, cateringnya, dllnya 🤗 kalo belum, lebih baik doakan saja yang terbaik setiap selesai sholatmu, ga perlu ngomong ke orangnya, tp langsung ke Alloh aja. Setiap dari kita tidak akan tau, kalimat mana yang mungkin melukai perasaan orang lain, meskipun kita menganggap itu biasa saja. Kesehatan mental setiap orang itu tidak bisa disamaratakan. 😊

Temukan versi "uwu"mu yang begitu "uwu" dengan sabar 🤗🤗

Rabu, 16 Oktober 2019

Tuhan, Aku tak sendiri

Terkadang aku masih bimbang. Apakah hadirmu benar² menghapus luka? Atau akankah malah memberikan luka yang baru?
Aku ingin bercerita tentang banyak hal kepadamu. Tapi tetap saja, aku tak bisa.
Sampai pada suatu titik, dimana aku benar² akhirnya terkadang merasa tak punyai siapa². Kamu yang lelah dengan pekerjaanmu, membuatku takut membebanimu. Sehingga aku merasa tak bisa untuk terbuka denganmu.
Aku lelah dengan hidupku Yaa Alloh...
Aku lelah dengan aku yang seperti ini...
Selalu tertekan, menyimpan seorang diri, berpura baik² saja, meski sebenarnya sangat tidak baik² saja.
Yaa Ilaahii.... Aku benar² butuh seseorang itu. Seseorang yang bisa menjadi teman untukku mencurahkan segala hal yang menyesakkan ini. Seseorang yang siap menjadi imamku. Dan seseorang yang siap mendengarkan semuaku.
Sungguh, aku lelah... :"(((

Selasa, 27 Agustus 2019

Kau Tak Pantas Untukku



"Kau tak pantas untukku". Percayalah, kalimat itu tak salah. Itu sangat tepat.. Iya, kau memang tak pantas untukku. Aku terlalu jauh jika harus dibandingkan denganmu. Kita tidak setara. Jadi jangan lagi bermimpi untuk menjadi teman hidupku. Cukupi sudah semua itu.
.
.
Dahulu, aku sangat pernah bermimpi untuk dapat menjadi teman hidupmu (meski aku tak tau bagaimana denganmu). Dahulu, aku selalu gemar sekali menceritakan sosokmu dihadapan sahabatku (meski dia tak tau bagaimana rupamu). Dan dahulu, aku sangat bersyukur mengenalmu, memiliki rasa yang belum semestinya hadir. Aku selalu ingin mengetahui bagaimana rasamu terhadapku.  Iya, sungguh aku selalu berharap rasamu adalah untukku. Dan bahkan, maaf, seringkali aku menerka semua mu ada tertuju untukku. Silakan kau mengatakan bahwa aku terlalu percaya diri tentang hal itu. Silakan kau katakan bahwa aki "bucin". Silakan...
Pernah suatu waktu aku amat sangat ingin mengetahui tentang bagaimana kau terhadapku. Namun lagi...aku tak seberani itu untuk menanyakan atau mengungkapkan terlebih dahulu. Aku benci dengan rasa ini, aku merasa terjebak ke dalam rasa yang tak menentu dan berujung. Hingga kemudian ada suatu hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehku akan terjadi...😢

"kau tak pantas untukku"
Iya, benar. Kau memang tak pantas untukku. Bagiku, kau terlalu baik untuk mendapatkan sosok yang hanya aku ini. Maka akan tak sepadan jika kau bertakdirkan bersamaku. Aku menyesalkan semua hal yang ku rasa terlambat. Aku menyesalkan mengapa cinta datang terlambat. Dan kini aku merasa di persimpangan jalan. Aku tak ingin melukai yang lain, apalagi dirimu. Sungguh, aku sama sekali tak menginginkan itu.
Ah, aku memang terlalu jahat untuk semua hal. Aku jadi semakin sadar, bahwa "kau tak pantas untukku".
Jika mungkin bisa, aku ingin sampaikan bahwa rasaku tulus kepadamu. Namun mungkin rasa tulus pun tak ada artinya untuk saat ini. Ah, aku terlalu jahat untuk mengakui ini... :"( aku tak pantas ungkapkan ini.
Kau tak pantas untukku, sungguh...kau tak pantas... Aku berharap kau temukan hati yang lebih baik lagi tulus kepadamu, yang mampu berimu bahagia, bukan sepertiku. Huuufh...aku benci harus menangis karena mengetik ini. Kenapa? Sejujurnya aku takut tak siap dengan apa yang menjadi harapku untukmu.
Ah, sudahlah...mungkin cukup sampai disini saja khayalanku ini. Aku berharap rasamu bukan untukku. Aku berharap semua yang sejak dulu ku rasa itu adalah aku, sebenarnya bukanlah aku. Dan aku berharap aku mampu sembuh dari rasa ini. Takdirku memang belum terjawab, tapi tentang apapun itu, percayalah kau tak pantas untukku. Kau tak pantas jika teman hidupmu itu adalah aku yang begitu menyedihkan ini. Kau harus bahagia, kau tak boleh terluka, dan kau tak boleh tersakiti.
Suatu saat, mungkin kita tak ditakdirkan untuk bersama, namun misalpun rasaku masih tetap sama, semoga aku baik-baik saja, begitupun juga dirimu.

Maaf karena aku mencintaimu sedalam ini.

(Surabaya, 26 Agustus 2019 11:01 am)

Sabtu, 20 April 2019

Bolehkah aku?

Kekasihku.. Ah, maaf aku lancang menyebutmu kekasihku.. Duhai sang calon kekasih halalku (jika Alloh menakdirkan aku hingga memasuki masa itu)... Maukah kau membantu mewujudkan satu hal inginku? Jika aku lupa nanti tolong ingatkan. Sungguh, benar² ingatkan aku soal ini. (aku berharap kau yang menjadi takdirku adalah pembaca tulisan ini)
Jika aku memilikimu nanti, eh bukan..salah...
Jika kau sudah memiliku nanti (begini yang tepat. Karena pun ketika aku halal untukmu begitupun sebaliknya, kau tetaplah milik ibumu, dan akulah yang kemudian menjadi milikmu, ah sedih π_π), pada suatu tempat yang tenang, berdua, hanya denganmu, genggam tanganku, jangan lepaskan aku, dan kemudian, izinkan aku menangis di hadapanmu layaknya seorang anak kecil, izinkan aku untuk sebentaaar saja menganggapmu sebagai ayahku, (sebelum kemudian dengan sepenuh hati mengabdikan diriku kepadamu sebagai seorang istri), dan jika kau berkenan pula jadilah engkau seolah sebagai seorang ayah untuk pertama kalinya itu untukku sebelum jadi ayah bagi calon anakmu kelak, yang kan lahir dari rahimku. Aamiin... Aku hanya butuh waktu sebentar saja untuk itu, tak akan lama, In Syaa Alloh.
Jadi biarkan aku menangis sepuasku di hadapanmu, dengan mungkin sedikit rasa canggung, karena semua hal yang akan menjadi pertama kalinya bagiku dan juga bagimu, mungkin (memegang tangan yang saat itu sudah menjadi halal untukku, berdua bersama seseorang yang melalui akadnya resmi melepaskanku dari waliku, dan banyak hal lainnya) biarkan aku seperti itu, bersikap hangatlah kepadaku, layaknya hangat kasihnya seorang ayah kepada anak. Aku ingin merasakan hangat kasih seorang ayah yang nyata. Setelah puas dengan itu, aku berjanji akan menjalankan semua kewajibanku dengan sebaik²nya, Fa In Syaa Alloh.
Jika saat ini kau masih bingung dengan inginku, tak mengapa. Nanti, kau akan tau dengan sendirinya. Yang hanya ku beri tahu saat ini, jika kau juga pernah membaca coretan-coretanku di sini, yang terkadang isinya tentang "future husband", ingin segera menikah, dsbnya, mohon maaf sebelumnya jika kalimat ini akan tidak mengenakkanmu, itu karena aku sangat merindukan, membutuhkan, dan menginginkan sosok figur seorang ayah, seseorang yang biasanya memanjakan anak perempuannya (dalam film²), seorang yang kuat, yang tak pernah menunjukkan rasa sedihnya, namun selalu berusaha untuk menjadi tempat hangat untuk anak perempuannya berbagi kisah, dan aku memang membutuhkan seseorang yang dengannya aku tak perlu malu untuk menunjukkan tentang betapa sesungguhnya lemahnya diriku. Aku membutuhkan sosok yang siap melihat diriku yang sesungguhnya amat sangat rapuh. Aku ingin menunjukkan tentang "aku" yang sebenarnya. "aku" yang bukan perempuan kuat. "aku" yang bukan perempuan tangguh. Dan "aku" yang sebenarnya membutuhkan untuk di dengar. (kepada reader yang budiman, jangan mencemoohku, karena aku yang di tulisan berbeda dengan  aku yang mungkin kalian lihat)
Meski hanya sebentar, aku tak masalah. Yang penting aku dapat menangis di hadapanmu, dan mungkin juga jika tidak capek menangis 😂✌, aku akan bercerita tentang satu hal yang tak pernah orang lain tau soal itu, bahkan keluarga dan teman dekatku sekalipun. Maaf jika itu mungkin menyakitkanmu. Karrna sungguh aku tak bermaksud seperti itu.🙏
.
.
Jadi.. Sekali lagi aku ingatkan... Tolong ingatkan aku soal satu inginku itu. Terimakasih... Uhibbuka jiddan, fillaah...
Untukmu dan untukku, untuk kita... Al Faatihah... Aaamiiin... 

Sabtu, 23 Februari 2019

First Story about Him

Latepost...
.
.
Ada sebuah cerita yang amat sangat menarik untuk ku ketikkan menjadi cerita (entah pendek ataupun panjang) di malam ini. Cerita ini tentang seorang manusia "sok tau" yang "sok kuat". Iya, begitulah untuk menjelaskan sosok lelaki itu. Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku tak cukup mengenalnya. Bahkan mungkin sekarang pun juga, mengenal sosoknya namun sebenarnya masih belum cukup untuk dikatakan mengenal kepribadiannya. Mengenai perihal menerka kepribadian seseorang, itu kesukaanku, yaaa meski aku bukan seorang ahlinya. Aku hanya suka saja mempelajari itu.
Kembali kepada cerita yang ku ambil malam ini. Dia adalah sosok yang di kenal serius, pemikirannya luas, perfeksionis, daaann jutek, tapiii pribadi yang dewasa. Itu mungkin sedikit penjelasan tentangnya. Hahaa... Sedikit jahat dan jail sekali ya penjelasanku, tapi mau bagaimana lagi, memang itulah sosoknya (dulu ketika aku masih sekedar mengenalnya). Waaw... Memang sekarang? Hmmm... Sekarang, setidaknya lebih mengenal jauh bagaimana sosoknya... Yaaa meskipun tidak sejauh orang² lain yg lebih lama mengenalnya. Aku mulai dikatakan intens dan dekat dengannya karena hal yang sebenarnya tanpa sengaja, dan tidak terduga . Hehehehee... Loh, kok bisa dikatakan begitu? Iyaa... Jadi suatu waktu aku pernah menghubunginya via chat whatsapp karena suatu kepentingan yang itupun karena saran seseorang, yang kata seseorang tersebut diminta untuk menanyakan kepadanya, yang mungkin lebih paham mengenai hal ini. Awalnya ketika mendengar namanya disebut, waktu itu aku langsung "deg!". "harus dia ya?". Cukup lama aku memutuskan untuk menghubunginya. Eh, sebelum aku benar-benar menghubunginya, aku masih berusaha untuk menghubungi orang lain lagi selainnya. Yakni para alumni dari tempat asalku berproses. Karena waktu itu, dalam hatiku aku masih sedikit kekeuh untuk enggan menghubunginya tersebab apapun. Begitulaah...dan lanjut aku menunggu balasan dari alumni yang ku hubungi. Namun Qodarulloh, di saat butuh²nya sang alumni mungkin sedang sibuk, jadi belum sempat membalas pesan yang ku kirimkan kepada beliau. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, yaaa mau bagaimana lagi, ku search namanya, ku kirimkan pertanyaan yang memang ku butuhkan. Dan alhamdulillah, tak terlalu lama sekitar 10 menitan dia sudah membalas. Tapi ya begitulah, seperti alasanku enggan menghubunginya (jawabannya judes begituuuu ✌), sampai² waktu itu setelah mendapatkan jawaban yang dibutuhkan, seorang Nur Fathimah Rofiq ini pun ga bilang "Trimakasih". Ga nyangka yaa, ternyata dia lebih jahat.. 🤐
Wkwkw.... Flashbackku kok menyedihkan sih... 😆
Okedeh, sekedar intermezzo aja tentang ketidak sengajaan itu. 
Selesai......
Terus lanjut cerita sedikit (sedikit versiku ✌), tentang ketidakterdugaan yang terjadi. Apa itu? Gini..... Eh ternyata...setelah chat ku yang pertama di tahun 2018 kepadanya itu, akhirnya dia orang ke 2 (setelah seseorang yang menyarankanku menanyakan satu hal itu kepadanya) yang menyimpan nomorku dari angkatannya di luar tempat asal berprosesku (aku tau dia menyimpan nomorku, karena dia melihat storyku) Wkwkwk... *ga penting banget dah ini Va... Hahaa, maybe... Tp itu suatu ketidakterdugaanku, dan itu bikin rada kaget... 😂 
Dah...tamat....
And now, back to the main topic.... 🙃
Jadi, ceritanya adalah hari kemarin entah kenapa suasana hati sedang amat susah di kondisikan, a.k.a kacau... Ya udah sih, biasa itu mah... Nah, tadi pagi pas buka² wa story, kebetulan buka wa story nya si tokoh utama. Di story pertama, eh dia buat story tentang "purnama dan rindu", eh kebetulan di hari yang sama aku juga buat story tentang itu (namun makna story kita berbeda). tapi aku terlebih dahulu, bukan aku ikut²an (membela diri dong 😎). Oke, itu story pertama.. Di story ke dua dia tentang blog yg isinya cerpen. Oke, jadilah aku membukanya, ku baca isinya, kadang tertawa sedikit, kadang senyum, dan kadang sekedar ku hayati kata demi kata dari cerpennya. Jadi cerpen tentang Qur'an saku itu ku rasa sedikit seperti sinetron, yang karena di dalamnya ada kisah cinta, kehilangan karena takdir tuhan, usia yang tidak lama lagi, yaa begitulah, kisah yang bisa ditebak sebelum selesai membacanya. But, over all bagus lah. 
Karena satu cerpen itu, naluri kepo ku terhadap sesuatu muncul 💡 hehehehee.... Akhirnya ku baca semua tulisannya, yang mayoritas adalah cerpen. Lagi² semua isi ceritanya selalu melankolis. Bahkan ada yang sampai membuat dadaku ikut sesak membacanya, sampai menangis. 😤 *nyebelin (batinku)
Sehabis baca semua di webnya, tangan ini rasanya gatel banget buat ga comment n kasih apresiasi terhadap tulisan² luar biasanya (yang aku saja tidak bisa membuat yang seperti itu).
Yaa seperti biasanya, jika ada chat itu berarti ada topik utama yang di bahas. Dan kali ini about cerpen itu, eh tapi tidak sepenuhnya about cerpen. Ada beberapa hal lain yang kita bahas, that's about my story... 😅 agak lama perdebatan ga jelas kita sore tadi, dan akhirnya ba'da maghriblah cerita menarik itu terjadi...
Yaelaah Va... Jadi dari tadi tuh masih belum pada intinya??? 🤐 
Aku sebenarnya tak ingin mengetik cerita ini. Aku ingin bersua. Tapi aku tak bisa. Aku terlalu cemen. 
Hari ini ada kejadian, cerita, peristiwa yang cukup menguras energiku... 😔
Entahlah, kenapa harus ada cerita menarik yang seperti ini. Berawal dari dia tak menepati janjinya dengan dalih belum ada feel, lalu kemudian dia harus bertanya perlu cerita atau nggak.. Hmmm... Itu cukup membuatku merasa kecewa. Tapi setelahnya ada kejutan luar biasa darinya karena jawaban yang katanya dia akan bercerita langsung, "about him". Wooow... Baiklah, ku siap membaca cerita menarik yang akan di buat (ku pikir waktu itu). Daaaann.... Ah..aku benci mengakui ini, sebenarnya. Apa yang dia ceritakan ternyata hal yang dalam waktu dekat kemarin ingin ku tanyakan kepadanya, namun ragu. Apa yang dia ceritakan ternyata adalah hal yang sebenarnya aku sudah tau tanpa dia jelaskan tentang pekerjaannya. Woow sekali kan. Dan karena semua yang di ceritakan itu membuatku menarik nafas panjang, membuatku menangis hebat. Setelah selesai dia bercerita, sebenarnya aku sangat ingin membalasa beberapa ceritanya yang ku rasa ingin ku komentari. Tapi aku sadar dan yakin, chat terpanjang yang dia kirim ini merupakan keputusan besar yang dia ambil. Dan itu pasti sudah dia pikirkan baik². Daaaannn itu cukup menguras energinya (mungkin). Maka dari itu, hal² yang ingin ku katakan dan ku tanyakan lebih baik ku simpan terlebih dahulu, meski keinginanku itu sedikit menggebu.
Jadi.... Sebenarnya sebelum dia menjelaskan kepadaku tentang perusahaan tempat dia bekerja, dulu aku sudah pernah mencari tahu di internet. Aku tau darimana? Yaa dari akun instagramnya ataupun story²nya. Jadi sedikit banyak aku tau pekerjaan dia seperti apa, dan perusahaannya itu di bidang apa. Dan yaa, karena tempat bekerjanya di situ, dan dengan beberapa analisis sekaligus bla bla bla ku. Dan di akhir² ini, entah hanya perasaanku saja, atau memang begitu, intinya story nya belakangan ini ada beberapa yang ku rasa dia sudah tidak nyaman berada pada pekerjaannya saat ini. *hanya menduga. 
Dan setiap waktu aku ingin bertanya kepadanya, selalu ku urungkan, karena aku takut dan khawatir itu menyinggung perasaannya. Lalu apa pertanyaanku? Pertanyaanku adalah sesuatu yang akhirnya tanpa aku bertanya sudah di jawab olehnya melalui cerita itu. "Apa yang membuatnya bekerja di tempat itu? Mengapa tidak pada dunia yang profesinya sesuai dengan jurusan yang di ambil, "pendidikan"? Atau memang sebenarnya itu bukan passionnya?" ya kurang lebih itu pertanyaanku, dan sebagian sudah dia jawab tanpa aku bertanya. 
Tentang mengapa aku menangis? ntahlah, aku juga tak terlalu dapat menerka tentang perasaan yang membuat dadaku sesak,  intinya aku hanya ingin menangis saja. Huuufhh... Sampai sekarang pun jika aku harus membaca ulang isi chat itu, rasanya pasti akan sama. 
Tapi satu hal yang ku tau pasti, salah satu alasan menangisku... Aku jadi semakin sadar, bahwa aku memang belum bisa menjadi sahabat, adik atau apapun yang baik baginya. Bagaimana bisa? Iya, karena dia selalu tau tentang semua sedihku, dia selalu menjadi tempatku membagi rasa, dia selalu menjadi jembatanku untuk bisa menumpahkan tangisku, tapi aku apa? Hanya tau sedikit sekali tentangnya. Amat sangat sedikit. Ah, aku tak suka.. Karena lagi² aku harus menangis. Dasar cengeng! 
Dia, si sok tau yang sok kuat, yang tak pernah menceritakan tentang segalanya kepadaku, yang tak pernah berbagi kisah kepadaku, dan tak pernah berkeluh kesah kepadaku. Ah, aku baru menyadari sekarang bahwa aku memang amat sangat terlalu egois untuk selalu menceritakan segalaku yang bahkan sebenarnya bukan yang lebih berat daripada masalahnya. Aku terlalu egois karena mementingkan masalahku sendiri, tanpa memikirkan keadaannya, apa dia saat itu tengah baik-baik saja, atau dia sebenarnya tengah kelelahan, atau bahkan sedang berada pada mood yang kurang baik. Tuhan... Kenapa aku tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya? 😭
Ingin ku memakinya sebelum ku memaki diriku sendiri. Kenapa dia selalu menunjukkan tampang kuatnya kepada siapapun, bahkan kepadaku yang selalu apapun ku ceritakan kepadanya?! 
Aaah....maaf, lagi² sifat egoisku muncul. 🙈 memang terkadang aku harus seringkali diingatkan, bahwa tidak semua orang bisa mempercayakan ceritanya untuk diketahui oleh orang lain, bahkan akupun juga terkadang kan begitu. 🤧
Aku sebenarnya tak suka. Bagaimana tidak, dia yang sok kuat, tapi selalu aku yang dikatanya sok kuat. Darimananya aku dikata sok kuat? Yang kadang ngetik sedikit aja udh nangis, yang kalo cerita banyak nangisnya, tak tau lah...orang payah yang katanya sok kuat yang padahal yang suka ngomong begitu lebih sok kuat lagi. 
Tapi... Aku tidak pernah tidak kagum kepadanya. Tentang kerja kerasnya, tentang prestasi² yang di milikinya, tentang pola pikirnya yang tak bisa ku tebak, atau tentang apa yang dia ucapkan/dia ketikkan. (this is my opinion, no one can comment about it) 
Hari ini, untuk pertama kalinya dia bercerita sepanjang itu, hari ini untuk pertama kalinya aku menjadi pembacanya, meski aku tak dapat berkomentar tentang isi ceritanya, pun meski aku ingin. Dan hari ini, adalah hari yang luar biasa bagiku, karena aku terharu saja, untuk pertama kalinya dalam cerita ini, aku di percaya untuk membaca cerita darinya. Hahahaha... Serba pertama kalinya. Ciyeee... Wkwk...*becanda ✌. tapi terharunya tadi ga becanda. Seriusan. 
Ah iya, aku ingin membahas sedikit tentang "sok kuat".. Hmmm...ya mungkin bagi seorang lelaki dewasa, sok kuat itu perlu dia punyai. Agar dia tetap bisa tersenyum dihadapan orang-orang terkasihnya, meski rasa lelah tiada kunjung usai. Karena lelaki dewasa selalu memiliki peran dan tanggung jawab yang besar. 
.
"Semangat manusia sok kuat... 😇 semoga Alloh kan membalas semua pengorbanan dan usahamu yang dengan ikhlas kau lakukan... Lain kali kalo ngasih cerita menarik yang seperti tadi, jangan surprise gitu ya.. Kan kaget. Ga bisa nyiapin tissue dulu... Hehe..*becanda, tapi ga lucu... 🙈 Jadi, lain kali boleh kok Nova di kasih cerita menarik lagi. In Syaa Alloh selalu siap (kalo di percaya✌) sama sepertimu, yang Nova percayai buat tau ceritaku, dan yang selalu siap dan ga pernah illfeel membaca chat panjangku...  😌"
.
.
.
Sedikit sisipan lain di luar cerita menarik si manusia sok kuat....
Kelak aku juga inginkan dan butuhkan seorang lelaki dewasa yang selalu siap untuk menjadi penopangku, dalam segala hal. Dan kelak semoga akupun dapat menjadi Qurrota A'yun baginya.
Semoga lelakiku adalah lelaki yang merasa beruntung karena bersama denganku. Aaamiiiiin....
"Semua lelaki itu Hebat. Dia mengerti kapan harus marah, mengalah, dan di dengarkan. Dia adalah pondasi terkuat yang sulit untuk rapuh. Bagaimana dia bisa rapuh, jika di pundaknya ada orang yang butuh perlindungan dan kasih sayangnya." (ig:@d.hima09)

Terkhusus untuk si tokoh utama dalam cerita ini, umumnya untuk para manusia yang berjenis laki², untuk para pencari nafkah, dan untuk semua yang lelah namun masih tetap bertahan dan tidak mengeluh.... Semoga Alloh memberikan jalan yang terbaik, menurut-Nya. Al-Fatihah... Aaamiiin...

[Kediri, 21 Februari 2019. 23.03]

Jumat, 15 Februari 2019

Namamu dalam Dekapan-Nya

Ku titipkan rasaku dan juga namanya kepada-Nya, Sang Maha Pencipta Segala...
Lantunan doa lirihku tak banyak untuk menyebut namanya, yang masih menjadi rahasia-Nya...
Bukan ku tak ingin untuk menjadi bagiannya, bukan pula ku meragukannya..
Namun aku hanya tak ingin terjebak perihal rasa untuk ke dua kalinya...
Atau mungkin itu bagian dari meragukannya?
Entah apa namanya, namun perihal segala apa yang ada, aku tidak demikian menyebutnya...
Mungkin akan lebih nyaman untuk dikatakan, aku tengah berhati-hati dengan rasa....
Hal ini bukan karena pernah di kecewakan oleh seseorang, tetapi hatiku pernah kecewa karena terlalu berharap padanya...
Bukan karena ada hubungan spesial, namun karena sebutan cinta dalam diam kepadanya...
Diam-diam mengagumi, diam-diam hadir rasa cinta, dan diam-diam terluka...
Lagi-lagi memang salahku yang terlalu berangan tentangnya...
Ah... Sudahlah, anggap saja masa 5 tahun bertahan kepada rasa adalah kebodohanku dalam mengenal cinta...
Tersebab karena hal itu, aku tak lagi ingin menaruh rasa kepada hati yang belum saatnya...
Sekuat apapun diriku ingin memilikinya.....
Tak lagi aku mendoakan ataupun menyebut namanya dalam sujud panjangku kepada-Nya, agar dijodohkan dengannya..
Ku titipkan segala rasa yang ada dalam hatiku ini kepada Dia, Yang Maha Mengetahui Segala...
Ku biarkan dia yang menemukanku dalam sujud panjangnya meminta....
Jika memang dia takdir yang kan menemani setiap senjaku di sisa usia....
Maka dengan amat sangat ridha dan ikhlas, ku terima takdir dari-Nya...
Namun jika ternyata ada takdir lain yang datang kepadaku, untuk menemaniku menikmati senja...
Maka sudah tak ku ragukan lagi, bahwa dia yang dalam sepertiga malam syahdunya lebih banyak mengadukan namaku dan bercengkrama dengan Pencipta-Nya...
Ku titipkan rasaku dan namanya kepada Sang Pemilik Rasa....
Aku bukanlah muslimah yang tak luput dari alpa, bukan pula Fathimah binti Rosulillah si putri tercinta...
Aku hanya wanita akhir zaman, yang mendambakan sang pangeran penjaga hati wanitanya.. 
Yang ketika bersamanya, aku dapat berbagi segala suka duka dengan mudahnya...
Yang ketika bersamanya, ku yakin mampu menjadi pribadi yang senantiasa lebih dekat dengan-Nya....
Dan yang ketika bersamanya, ku yakin dapat saling berbagi ilmu tentang duniawi maupun ukhrawi dengannya...
Aku... Dengan segala kelemahanku dalam menjaga hati dan rasa...
Dengan sepenuh hati, kutitipkan rasaku dan namanya kepada Dia, hingga dia datang kepada waliku dengan pengakuannya...
Tugasku saat ini, mendoakan dia agar dalam menemukanku, dipermudahkan jalannya oleh-Nya...
Tugasku saat ini, senantiasa memperbaiki diri, agar kelak pantas disebut sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya...
Tugasku saat ini, menjaga diri dan hati agar kelak dapat kujadikan sebagai kado untuknya...
.
.
Untukmu, my future husband... Menjagaku dari bersentuhan kepada yang bukan mahram, adalah kado spesial dariku, dan bagiku.
Siapapun dirimu dan seperti apapun engkau, ku tunggu engkau menjadi bagian dari penyempurna agamaku.
لك الفاتحة.... آمين

Senin, 12 November 2018

Future Husband

Meski sudah ku setting auto focus, nampaknya ragamu masih saja blur, dan bahkan tak ter-detect. Mengetahui bagaimana rupamu saja tidak, lantas siapa sesungguhnya dirimu? Darimana dirimu berasal? Seperti apa dan bagaimana sifatmu? Apakah kita sudah pernah saling berpapasan? Atau apakah kita sudah saling mengenal? Atau tentang apapun itu...

Aku berharap apapun yang kulakukan, apapun yang kau lakukan, semua itu selalu dalam lingkaran yang sama, mengharap keridhoan-Nya.

Aku bukanlah orang baik, apalagi terbaik. Aku masih jaaauuhh dari kata itu, amat sangat jauh. Aku belum bisa menjadi seorang wanita yang dapat disebut sholihah. Aku seorang wanita yang masih labil. Terkadang hatiku mudah untuk tertaut kepada yang belum halal untukku, bahkan hanya dengan kebaikan-kebaikannya. 😔

Aku sedih karena belum mampu mengkondisikan hati dengan baik. Aku sedih karena harus memiliki rasa sebelum akad, karena aku tau hakikat itu semua adalah belum saatnya. Masih bias.

Yaa Robb... Kuatkan aku untuk menjaga rasa ini untuk dia yang halal bagiku. Kuatkan prinsip dan keteguhanku untuk dia yang berjuang menghalalkanku. Kuatkan diri ini agar senantiasa mampu mempertahankan prinsip ini sebagai kado terindah untuknya yang nantinya menjadi imamku.

Semoga saat ini, kau pun tengah berjuang, berproses, dan berusaha untuk masa depan yang penuh akan cahaya-cahaya surga-Nya... Al-Faatihah... Aaamiiin...