Kalimat yang sangat sering ku dengar dari para sahabat/i PMII kepadaku. Kalimat tersebut selalu ku anggap sekaligus sebagai doa untukku. Dan jika aku boleh berkata jujur, hingga sekarang, aku masih selalu merasa bukanlah siapa² dan bukanlah apa² jika berhadapan dengan mereka yang sangat mudah untuk mengungkapkan dan menyampaikan argumen. Aku hanyalah seorang Nur Fathimah yang (mungkin) bagi kebanyakan mereka adalah seorang yang selalu cari aman, ga mau ambil resiko, pecundang, dan sebagainya. Namun jika ku harus menjelaskan dengan suara kepada mereka, aku sudah yakin pasti akan menjadi suatu hal yang bisa jadi itu dianggap hanyalah sebagai alibiku. Oke, itu hak mereka, yang selalu aku ingat dan tanamkan pada diriku adalah "Alloh tidak akan menghisabku karena prasangkaan kalian, tp aku akan di adili oleh-Nya sesuai dengan kenyataan perbuatanku".
Pun meski begitu, aku tetap bersyukur dengan hal-hal demikian. Karena dengan seperti itu, setidaknya aku akan selalu melatih diri untuk senantiasa bersabar dan belajar khusnudzon. Belajar bersabar, untuk tidak sampai mengumpat orang lain. Serta belajar khusnudzon bahwa itu hanya karena mereka belum mengetahui yang sesungguhnya. Ihdinaa ash-shiroothol mustaqiim...
Jugaa... Aku amat sangat bersyukur, dengan keadaanku yang seperti ini, masih tetap ada sahabat/i yang senantiasa memotivasiku, tidak meninggalkanku, serta bersedia mengingatkanku dengan tanpa menyakiti perasaanku. Kepada sahabat/i senior yang selalu tak kenal lelah menguatkanku, yang tentunya tak mungkin untuk ku sebutkan nama-namanya di sini. Kepada sesiapapun yang tak lelah membaca chatku yang selalu panjang (entah mereka memahami maksudnya atau tidak 😂). Kepada sesiapapun yang mau ku ajak berdiskusi panjang dan tak bosan, rela membagi waktunya untuk.membaca ocehanku di chat, dan mau berbagi ilmu kepadaku dengan ikhlas....
Jazaakumullohu ahsanal jazaa'.... *(semoga kalian benar-benar orang-orang yang tulus 🙏
Kembali lagi kepada kalimat "Istiqomah dalam Pergerakan", entah mengapa setiap doa itu terlantunkan untukku, otomatis air mataku langsung membasahi pipi. Aku bukan bermaksud sok berhati lembut atau apapun. Sungguh.. 😔 itulah kenyataannya. Dan untuk ungkapan "sok berhati lembut", sebenarnya untuk apa aku harus seperti itu? Menarik hati kalian agar bersimpati/berempati kepadaku? Maaf, aku tak serendah itu, yang merendahkan diri untuk mendapatkan kepura-puraan dari yang sebenarnya tak ada sedikitpun rasa empati. || Loh, kok kamu su'udzon gitu sih Va? || Maaf lagi, aku tidak bermaksud su'udzon. Itu mungkin memang satu dari banyaknya sisi burukku yang kalian ketahui (yang sebenarnya ada banyak, namun Alloh teramat baik menutupi keburukan²ku).
Istiqomah dalam Pergerakan itu bukan hal yang mudah, namun bukan berarti kita tidak mampu menjalani itu. Berat, memang... Bahkan terkadang hal tersebut terasa amat sangat berat untuk tetap ku istiqomahkan. Tidak jarang aku memiliki pikiran buruk untuk resign dari PMII, dan sering pula aku merasa tidak pantas dikatakan sebagai mahasiswa pergerakan, mahasiswa PMII yang bahkan sudah PKD ini. Perasaan² seperti itu hadir tersebabkan juga perkataan² dari banyak pihak yang selalu mengaitkan hal apapun tentangku dengan PMII. "katanya mahasiswa pergerakan, tapi ga berani bersuara", "arek PMII kok baperan, gak usum", dsb. nya. Percayalah, hal-hal itu cukup membuatku menganggap bahwa diriku memang tak berarti di sini, di PMII. Ya karena memang aku tak pernah berani cepat bersuara, bahwa aku akan benar-benar mau bersuara jika kata hatiku sudah meyakini hal tersebut tidak akan terjadi perselisihan. Hal tersebut bukan tersebab aku pecundang. Tak berani ku bersua lebih disebabkan karena aku ingin menjaga perasaan orang lain agar tak sampai menyakiti dan menimbulkan perselisihan lain, dan terlebih ingin menjaga perasaanku sendiri, jika saja hasil dari suara ku menimbulkan sebuah masalah yang masalah itu menjadi sebab seseorang mengungkapkan kata-kata pedas yang ditujukan kepadaku. Karena aku benar-benar tidak bisa mendengar kata-kata seperti itu, namun aku lebih tidak bisa (tidak sanggup) mendengar kata-kata pedas itu dari orang lain yang mendengar seseorang mengatakan kata pedas yang ditujukan padaku. 😔
Istiqomah dalam Pergerakan selalu bagiku adalah aku harus sanggup menahan dan meredakan rasa sakit yang memang harus ku tanggung karena aku telah berani memutuskan untuk memilihnya. Istiqomah dalam Pergerakan itu berarti aku harus mau dan bisa melakukan sebuah peran yang diberikan kepadaku dengan sungguh-sungguh, tanpa ada yang tau bahwa ku hanya sedang menjalankan peran (bukankah drama memang seperti itu?). Seseorang dapat hanyut dalam seni peran yang ku lakoni. Iya, memang begitu... Aku harus selalu belajar untuk bisa seperti itu, kalo kata salah satu senior PMII kepadaku adalah seperti ini, "Sin penting setiap apa apa sin terjadi di lapangan jgn d masuk kan ke hati anggap aja iku semua seni peran dimana setelah bermain dlm seni perannya semua kembali pada normalitas kehidupan non organisasi. Hidup kan drama dan sandiwara jadi lakoni sesuai lakon dmana medanmu d tempatkan". Jadi setidaknya, meski aku memang seorang kader yang "baperan", yang apapun selalu ku masukkan dalam hati, meski se nyesek apapun keadaan-keadaan yang terjadi kepadaku, aku harus berusaha sok strong. Mengusahakan diri agar tidak memperlihatkan kelemahan diri di depan umum (semaksimal dan semampu diri untuk menutupinya).