Senin, 12 November 2018

Future Husband

Meski sudah ku setting auto focus, nampaknya ragamu masih saja blur, dan bahkan tak ter-detect. Mengetahui bagaimana rupamu saja tidak, lantas siapa sesungguhnya dirimu? Darimana dirimu berasal? Seperti apa dan bagaimana sifatmu? Apakah kita sudah pernah saling berpapasan? Atau apakah kita sudah saling mengenal? Atau tentang apapun itu...

Aku berharap apapun yang kulakukan, apapun yang kau lakukan, semua itu selalu dalam lingkaran yang sama, mengharap keridhoan-Nya.

Aku bukanlah orang baik, apalagi terbaik. Aku masih jaaauuhh dari kata itu, amat sangat jauh. Aku belum bisa menjadi seorang wanita yang dapat disebut sholihah. Aku seorang wanita yang masih labil. Terkadang hatiku mudah untuk tertaut kepada yang belum halal untukku, bahkan hanya dengan kebaikan-kebaikannya. 😔

Aku sedih karena belum mampu mengkondisikan hati dengan baik. Aku sedih karena harus memiliki rasa sebelum akad, karena aku tau hakikat itu semua adalah belum saatnya. Masih bias.

Yaa Robb... Kuatkan aku untuk menjaga rasa ini untuk dia yang halal bagiku. Kuatkan prinsip dan keteguhanku untuk dia yang berjuang menghalalkanku. Kuatkan diri ini agar senantiasa mampu mempertahankan prinsip ini sebagai kado terindah untuknya yang nantinya menjadi imamku.

Semoga saat ini, kau pun tengah berjuang, berproses, dan berusaha untuk masa depan yang penuh akan cahaya-cahaya surga-Nya... Al-Faatihah... Aaamiiin... 

Father's Day

...
Ingin ku puisikan sosok seorang ayah. Ingin ku rangkai kalimat indah nan syahdu untuk seorang bernama ayah. Namun ayah yang seperti apa yang harus ku puisikan? Bahkan aku tak memiliki gambaran indah tentangmu, kecuali saat aku SD.
Sekarang?? Sekarang semua tlah jauh berbeda. Aku ingin seperti layaknya mereka yang lain.. Sangat ingin... Bahkan rindu.. Iri? Iyaa... Sedikit banyak begitu (sedikit atau banyak?) 🙈

Baiklah, takdir setiap orang memanglah berbeda. Aku hanya memiliki satu harapan kecil, yang teramat sangat ku harapkan dapat terwujud kelak.... Nanti, ketika seorang yang akan di panggil "ayah" oleh calon anak-anakku datang meminangku, ku harap kau masih dapat menyaksikan dan menjadi wali nikahku, "ayah". Aamiiin.... 🙏

Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku tlah jauh darimu

I Miss U > jika ada Cinta Sebelum Jumpa..  Maka ada pula Rindu Sebelum Jumpa. Cinta dan Rindu tersebut terkhusus untukmu, yang bahkan aku pun belum tau bagaimana sosok dirimu... Apakah kita pernah berjumpa, atau apakah kita belum pernah saling sapa? *kamu, my future husband.

Selamat hari Ayah kepada seluruh ayah dan calon Ayah dari anak-anakku.. 

Selasa, 06 November 2018

Istiqomah dalam Pergerakan

Kalimat yang sangat sering ku dengar dari para sahabat/i PMII kepadaku. Kalimat tersebut selalu ku anggap sekaligus sebagai doa untukku. Dan jika aku boleh berkata jujur, hingga sekarang, aku masih selalu merasa bukanlah siapa² dan bukanlah apa² jika berhadapan dengan mereka yang sangat mudah untuk mengungkapkan dan menyampaikan argumen. Aku hanyalah seorang Nur Fathimah yang (mungkin) bagi kebanyakan mereka adalah seorang yang selalu cari aman, ga mau ambil resiko, pecundang, dan sebagainya. Namun jika ku harus menjelaskan dengan suara kepada mereka, aku sudah yakin pasti akan menjadi suatu hal yang bisa jadi itu dianggap hanyalah sebagai alibiku. Oke, itu hak mereka, yang selalu aku ingat dan tanamkan pada diriku adalah "Alloh tidak akan menghisabku karena prasangkaan kalian, tp aku akan di adili oleh-Nya sesuai dengan kenyataan perbuatanku".
Pun meski begitu, aku tetap bersyukur dengan hal-hal demikian. Karena dengan seperti itu, setidaknya aku akan selalu melatih diri untuk senantiasa bersabar dan belajar khusnudzon. Belajar bersabar, untuk tidak sampai mengumpat orang lain. Serta belajar khusnudzon bahwa itu hanya karena mereka belum mengetahui yang sesungguhnya. Ihdinaa ash-shiroothol mustaqiim... 
Jugaa... Aku amat sangat bersyukur, dengan keadaanku yang seperti ini, masih tetap ada sahabat/i yang senantiasa memotivasiku, tidak meninggalkanku, serta bersedia mengingatkanku dengan tanpa menyakiti perasaanku. Kepada sahabat/i senior yang selalu tak kenal lelah menguatkanku, yang tentunya tak mungkin untuk ku sebutkan nama-namanya di sini. Kepada sesiapapun yang tak lelah membaca chatku yang selalu panjang (entah mereka memahami maksudnya atau tidak 😂). Kepada sesiapapun yang mau ku ajak berdiskusi panjang dan tak bosan, rela membagi waktunya untuk.membaca ocehanku di chat, dan mau berbagi ilmu kepadaku dengan ikhlas....
Jazaakumullohu ahsanal jazaa'.... *(semoga kalian benar-benar orang-orang yang tulus 🙏

Kembali lagi kepada kalimat "Istiqomah dalam Pergerakan", entah mengapa setiap doa itu terlantunkan untukku, otomatis air mataku langsung membasahi pipi. Aku bukan bermaksud sok berhati lembut atau apapun. Sungguh.. 😔 itulah kenyataannya. Dan untuk ungkapan "sok berhati lembut", sebenarnya untuk apa aku harus seperti itu? Menarik hati kalian agar bersimpati/berempati kepadaku? Maaf, aku tak serendah itu, yang merendahkan diri untuk mendapatkan kepura-puraan dari yang sebenarnya tak ada sedikitpun rasa empati. || Loh, kok kamu su'udzon gitu sih Va? || Maaf lagi, aku tidak bermaksud su'udzon. Itu mungkin memang satu dari banyaknya sisi burukku yang kalian ketahui (yang sebenarnya ada banyak, namun Alloh teramat baik menutupi keburukan²ku).
Istiqomah dalam Pergerakan itu bukan hal yang mudah, namun bukan berarti kita tidak mampu menjalani itu. Berat, memang... Bahkan terkadang hal tersebut terasa amat sangat berat untuk tetap ku istiqomahkan. Tidak jarang aku memiliki pikiran buruk untuk resign dari PMII, dan sering pula aku merasa tidak pantas dikatakan sebagai mahasiswa pergerakan, mahasiswa PMII yang bahkan sudah PKD ini. Perasaan² seperti itu hadir tersebabkan juga perkataan² dari banyak pihak yang selalu mengaitkan hal apapun tentangku dengan PMII. "katanya mahasiswa pergerakan, tapi ga berani bersuara", "arek PMII kok baperan, gak usum", dsb. nya. Percayalah, hal-hal itu cukup membuatku menganggap bahwa diriku memang tak berarti di sini, di PMII. Ya karena memang aku tak pernah berani cepat bersuara, bahwa aku akan benar-benar mau bersuara jika kata hatiku sudah meyakini hal tersebut tidak akan terjadi perselisihan. Hal tersebut bukan tersebab aku pecundang. Tak berani ku bersua lebih disebabkan karena aku ingin menjaga perasaan orang lain agar tak sampai menyakiti dan menimbulkan perselisihan lain, dan terlebih ingin menjaga perasaanku sendiri, jika saja hasil dari suara ku menimbulkan sebuah masalah yang masalah itu menjadi sebab seseorang mengungkapkan kata-kata pedas yang ditujukan kepadaku. Karena aku benar-benar tidak bisa mendengar kata-kata seperti itu, namun aku lebih tidak bisa (tidak sanggup) mendengar kata-kata pedas itu dari orang lain yang mendengar seseorang mengatakan kata pedas yang ditujukan padaku. 😔
Istiqomah dalam Pergerakan selalu bagiku adalah aku harus sanggup menahan dan meredakan rasa sakit yang memang harus ku tanggung karena aku telah berani memutuskan untuk memilihnya. Istiqomah dalam Pergerakan itu berarti aku harus mau dan bisa melakukan sebuah peran yang diberikan kepadaku dengan sungguh-sungguh, tanpa ada yang tau bahwa ku hanya sedang menjalankan peran (bukankah drama memang seperti itu?). Seseorang dapat hanyut dalam seni peran yang ku lakoni. Iya, memang begitu... Aku harus selalu belajar untuk bisa seperti itu, kalo kata salah satu senior PMII kepadaku adalah seperti ini, "Sin penting setiap apa apa sin terjadi di lapangan jgn d masuk kan ke hati anggap aja iku semua seni peran dimana setelah bermain dlm seni perannya semua kembali pada normalitas kehidupan non organisasi. Hidup kan drama dan sandiwara jadi lakoni sesuai lakon dmana medanmu d tempatkan". Jadi setidaknya, meski aku memang seorang kader yang "baperan", yang apapun selalu ku masukkan dalam hati, meski se nyesek apapun keadaan-keadaan yang terjadi kepadaku, aku harus berusaha sok strong. Mengusahakan diri agar tidak memperlihatkan kelemahan diri di depan umum (semaksimal dan semampu diri untuk menutupinya).


Jumat, 02 November 2018

Spam Post

Mungkin bisa di kata Alay (iya, Nova emang gitu).. Jadi ceritanya ini adalah moment akhirnya Nova sama Diyanah ketemuan lagi, setelah hampir sebulan ga ketemu, yang padahal kosku dan asrama dia itu deket bngt. Ya mungkin kalo di antara reader pernah baca story ku tentang "Memang benar aku kah, atau sebenarnya kamu kah, yang harusnya meluangkan waktu untuk ada kata "kita"?", nah, story itu memang ku tujukan ke dia ini (si Diyanah). bukan untuk siapa2. Tentang pertanyaan siapa "kita"? Ya aku dan dia (Diyanah). Udah, itu sekedar intermezzo tentang lamanya waktu kita buat bisa ketemu lagi. Dan hari ini lah kejadian Alay nya seorang Nur Fathimah terjadi. abis Diy bantuin Nova take video hari ini, Diy ngomong || "koyok.e kamar iki wes kudu enek bonekane deh" | "iyo i, aku yo sempet pengen punya boneka" (ya soalnya seumur² ga pernah punya boneka emang 😂) || terus tetiba dia ngambil sesuatu di tasnya.. Jeng...jeeng... Tau apa yg terjadi? Ya begitulah, Nova selalu alay, ntah... Nova tuh ga suka di kasi kejutan, ya gitu, soalnya (kalo kata orang jawa) "gembeng"..  Udah, trus ga bisa ngomong apa², kata²nya kepentok sama sesenggukan.. 🤧 || abis itu, udh Nova ga bisa berentiin si air mata, Diy malah nge puk puk, meluk... 😭 (sedikit menjadi), dia ngomong "Baarokallohu fii 'umrik, semoga blablabla. Kamu inget kn, perjalanan kita naik kereta berdua, nah tiba² aku merasa iki sing cocok. Tentang perjuangan, dll. Selamat Ulang Tahun. || dan setelah berhasil mengkondisikan diri, akhirnya udh tenang, terus lanjut baru cerita tentang hal yang mungkin sudah lama ga kita perbincangkan.. Apapun itu...
Intinya lewat post ini, cuman pengen ngomong aja, Terimakasih selalu jadi teman suka dukaku selama 3 tahun ini, terimakasih untuk hari ini yang entah ke berapa sekian kalinya tiap ketemu, dirimu ga pernah bosan liat Nova nangis. Terimakasih untuk hari ini, yang telah banyak membantuku untuk take video, mau repot² nge video in, minjem.in hape, mau balik ke kosku lagi padahal udh malem, terimakasih untuk kadonya, dan terimakasih untuk semua hal itu, Teriring doa, "Jazaakillaahu ahsanal jazaa' Diy".

Kamis, 01 November 2018

Sanah Hilwah Nur Fathimah Rofiq

31 Oktober 2018
Selamat...
Bukan selamat menjadi tua (menua) layaknya ucapan kebanyakan orang ketika ada yang usianya bertambah..
Melainkan, selamat menjadi pribadi yang lebih matang dalam berpikir, dewasa dalam bertindak, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Menjadi dewasa bukan berarti tak boleh menangis. Asal kita bisa menempatkannya dengan bijak. Sudah.. Itu...
Dan meminta seseorang atau banyak orang untuk memahami, itu adalah sifat yang kekanak-kanakan..
Baarokallohu fii 'umrik.. 'Asallohu Ay-yubaarik fii hayaatik...

Rabu, 24 Oktober 2018

Introver(t)

Jika kau tau, menjadi pribadi introver itu bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus di hadapi oleh seorang introver untuk menjaga hatinya sendiri. Tak banyak orang yang mau mengerti dan memahami seorang introver, dan tak sedikit orang yang men-cap introver dengan sebutan antisosial, sok baik, munafik, dll nya yang sudah sangat melekat pada diri tiap manusia dalam men-judge para introver. Bahkan dari golongan seorang psikolog pun ada yang tak dapat memahami, dengan menyebut seorang introver tersebut pemalu, tidak bisa berinteraksi dengan baik. Satu hal yang sangat perlu kalian ketahui, sadar atau tidak sadar, peduli ataupun tidak peduli, hal tersebut sangat melukai hati seorang introver. Yaa....aku seorang introver, Dan aku tidak jarang mendapatkan perlakuan seperti itu.
Sering kali aku berkata "Banyak hal yang tak dapat ku katakan dan ku jelaskan. Banyak hal yang tak kau ketahui maksud hati dan semua ini" . Dan itu memang benar adanya. Hal tersebut bukan karena kami malas untuk menjelaskan. Sungguh, bukan karena hal tersebut. Tapi lebih kepada bahwa kami adalah pribadi yang tidak bisa berbicara secara spontan. Kami adalah para pemikir. Kami adalah pribadi yang selalu memikirkan matang-matang tentang apa yang akan kami bicarakan. Bahkan kami akan lebih memilih untuk tidak mengungkapkan apa yang ingin kami sampaikan, hanya karena khawatir apa yang kami sampaikan merupakan hal yang bagi kebanyakan orang ternyata bukan hal yang penting. Atau karena kami khawatir akan reaksi orang di sekitar kami yang [mungkin] tidak merespon dengan baik, atau juga bisa jadi karena kami takut apa yang kami sampaikan malah melukai perasaan orang lain, dan terlebih perasaan diri kami sendiri.
Sungguh, percayalah... Kami tidak menyukai sifat kami yang seperti ini. Kami juga ingin layaknya kebanyakan manusia, yang bisa dengan mudah mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
Ini belum sepenuhnya ku utarakan, namun sementara cukup sekian.
Terimakasih... 😍
[Surabaya, 11-07-2018]

Senin, 09 Juli 2018

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia



Kenapa gabung PMII? || Hehehe... PMII adalah nama organisasi kampus yang pertama kali ku kenal sebelum aku kuliah, sebelum aku menjadi mahasiswa, sebelum aku tau apa itu BEM, apa itu UKM, apa itu ormada, atau apa itu ormek. Dan satu hal yang sangat ingin ku ikuti saat menjadi mahasiswa adalah PMII. || Kalo udah kenal dari dulu, tapi kok gabungnya baru di pertengahan semester? || Ya, itu karena dulu aku adalah mahasiswa di kampus teratai, yang ketika aku ingin mengikuti kegiatan kemahasiswaan aku harus ke ketintang / lidah wetan. Karena yang ada di teratai hanya HMJ dan UKKI. || Tapi dulu ikut BEM? || Iya, karena waktu itu pas PKKMB aku tau satu organisasi kemahasiswaan yang memiliki andil dalam penyelenggaraan PKKMB, dan bagiku itu dulu luar biasa ketika kita punya peran untuk kampus. *namanya juga maba* . Yaaps... Dan akhirnya pas oprek daftar deh, terus lolos. || Trus apa kabar PMII nya? || Waktu itu aku sejenak lupa soal PMII, sebab tanggungjawabku yang cukup berat [bagiku] di BEM, yang notabene nya aku masih mahasiswa semester awal, tapi menjadi wakadep. || Lalu? || Lalu setelah sekian lama aku melupakan / terlupakan tentang PMII, aku kenal dekat dengan salah satu pengurus BEM FIP, dan di ig nya akhirnya ku ketahui bahwa ternyata dia adalah anak PMII. Yeey... Akhirnya aku sadar dari ke-lupa ingatan-ku tentang PMII. Bertanyalah diriku tentang itu kepadanya, dan aku meminta tolong untuk bagaimana bisa ikut PMII [karena aku memang tidak tau tentang pengkaderannya PMII sama sekali, bahkan aku tidak tau kalau PMII itu nama dari ormek dan dia sifatnya organisasi pengkaderan. aku hanya tau PMII itu apa (titik)]. Dan bla bla bla dengan banyak drama di dalamnya sampai akhirnya aku benar2 resmi di baiat. It's Amazing. Nangis? Iya, itu pasti. Bersyukur? Sangat. Dan bahkan ini berita ter- ter- yang ku ceritakan ke Yangkung pasca baiat. [jadi, ceritanya aku nelfon Yangkung, ngomong kalo aku ikut PMII, dan jawaban yangkung sangat simple, tapi luar biasa. "Alhamdulillah" ya, hanya alhamdulillah, tapi bukan sekedar Alhamdulillah biasa. Ada makna lain di balik itu.] || Berarti sekarang kamu adalah mahasiswa pergerakan sejati? Kamu benar-benar paham tentang PMII? || Belum. Aku belum/tidak pantas untuk dikatakan demikian. || Jadi, kenapa gabung PMII? || PMII adalah takdirku, yang dengannya setidaknya aku kembali merasa menjadi seorang santri. PMII adalah segalaku. PMII adalah ketika aku menyanyikan Marsnya selalu membuat hatiku bergetar dan menahan tangis. PMII adalah hal yang mungkin tidak semua orang dapat memahami seperti sudut pandangku. PMII adalah pergerakanku.

"suatu saat ketika kamu melihat hal burukku, atau kamu mengatakan 'mahasiswa pergerakan kok modelnya gini, gak berani ini atau itu?' Percayalah itu sama sekali bukan karena aku bergabung di PMII. Dan bukan pula karena cara PMII yang salah dalam mendidikku. Tapi itu murni dari buruknya diriku, dan itulah mengapa aku belum/tidak pantas untuk bila dikatakan mahasiswa pergerakan sejati atau mahasiswa yang paham betul soal PMII."

-Al-faqiiroh: Nur Fathimah R. [Surabaya, 8 Juli 2018]

Sabtu, 02 Juni 2018

Fitrahku, Naluriku

Semakin ku dewasa, semakin banyak pula hati yang sedang berusaha masuk ke dalam hati. Entah berusahanya karena memang hati itu ada hati denganku, atau karena diriku yang terlalu memanjakan hatiku sehingga ku menganggap sebuah hal kecil tersebut adalah rasa yang tak biasa. Aku sebenarnya tidak menyukai hal yang seperti ini, tapi aku harus bagaimana? Ya aku hanya bisa berusaha untuk tidak terlalu memanjakan hatiku. Itu saja. Aku sebenarnya memiliki satu pesan singkat untuk laki-laki. "bersikap dinginlah kepadaku. Karena aku takut salah mengartikan. Dan akhirnya membuatku lagi-lagi terjebak ke dalam rasa". Sudah, itu saja. Sebenarnya bukan hanya kepadaku, jika bisa, lakukan hal tersebut kepada semua wanita. Karena terkadang dengan sedikit kedekatan, wanita akan mudah luluh. Jadi berhati-hatilah jika kau belum/tidak berniat untuk menikahinya. Bersikap dinginlah kepada kami, agar kami pun juga dapat menjaga fitrah kami untuk yang akan halal bagi kami.

Bukan lagi dia yang Kemarin

Mungkin salahku juga yang dengan mudahnya membuka hati, yang kemudian membuatku terjebak dalam rasa yang entah harus dengan cara apa atau bagaimana aku mengkondisikannya. Maa fii qolbii ghoirulloh.. 😔
Aku tak mau dan tak ingin  mendoakan dia untuk jadi apa yang mungkin jadi inginku, karena khawatir jika rasa ini tak sampai, dan terulang seperti rasa yang lalu. Aku terlalu takut untuk menyebut arti rasa ini dengan sebutan yang itu lah namanya. Aku khawatir jika yang ku rasa ini hanya perasaanku saja yang suka memanjakan perasaan.
Hanya saja, pertanyaanku... Apakah rasamu juga rasaku?
Ntah jawabannya iya atau tidak. Apakah rasa ini tepat?
Sebenarnya, inginku 'tuk bertanya tentang maksud dari semua ini. Tapi, aku tak memiliki keberanian yang lebih untuk meminta pertanggung jawabanmu tentang segala apa yang terjadi. Aku terlalu takut terluka, jika ternyata rasamu bukan rasaku. Aku terlalu takut, jika setelah kutanyakan hal ini, akan merubah semua rasa nyaman ini. Aku terlalu takut dengan semua hal yang akan merubah semua hal ini.
Sejak awal, aku sudah memprediksi akan hal ini, namun entah mengapa aku enggan beranjak menjauh. Lagi lagi aku enggan kehilangan rasa nyaman ini. Seolah aku meng "iya" kan bahwa aku lebih menyukai ketidak pastian sebuah rasa. Aku benar-benar telah memanjakan rasa yang sedang ada ini.
Ternyata menjaga hati sebelum datangnya halal itu memang amat sangat sulit.
Astaghfirulloh...
Itulah sebabnya mimpiku adalah bisa nikah muda.
Apa ada yang salah? Kalau bagiku tidak.
Dikata ngebet nikah? Iya, sok...silakan... Toh itu hal yang baik, toh itu bisa jadi penyempurna agama. Toh itu adalah ibadah.
Pertanyaannya sekarang, adakah seseorang yang pas di hati dan pemberani?
Inginku yang mungkin juga mimpiku sejak dulu, cukup simple... Ada seorang lelaki yang dengan berani langsung datang melamarku.
Bahkan cukup dengan sirri pun aku mau. Kenapa? Setidaknya sudah ada ikatan sah dan juga sudah ada yang bisa menjagaku, dan dia adalah orang yang halal.
Ya sudah dengan gentle mengambil alih peran orang tua ku dalam menafkahi dan segalanya...
Aiiiisshh.... Berbicara tentang ini selalu membuatku menangis. Iya, memang aku orang yang terlalu mudah menangis, bahkan dengan hal-hal kecil sekalipun... 

Kamis, 17 Mei 2018


#latepost
Kata orang Jawa, "withing tresno jalaran soko kulino", yang kurang lebih artinya seperti ini, "rasa cinta itu tumbuh karena terbiasa". Entah sejak kapan rasa nyaman ini muncul, hingga aku tak dapat mengartikan arti rasa nyaman ini. Kurasa, terlalu sering aku mengalami rasa yang semacam ini. Aku terjebak ke dalam sebuah rasa nyaman, yang kemudian aku terlalu berharap dan aku terlalu yakin dengan perasaanku. Rasa nyaman ini semakin mengelabuhiku. Terkadang, jika ku ingin menyebut rasa ini sebagai rasa suka atau cinta, seakan itu bukanlah hal yang tepat. Aku harus bertanya kepada hatiku, benarkah ini suka atau cinta? atau hanya sekedar sebuah rasa nyaman? Dan lagi-lagi ini adalah kesalahanku sendiri, yaitu terlalu memanjakan perasaanku, yang padahal bahkan aku sendiri tak yakin dengan semua yang dia lakukan selama ini. Entah memang hanya aku, atau semua wanita memang dapat perlakuan yang sama. Entah memang dia menyukaiku, atau dia hanya menjadikanku sebagai teman tempat pelampiasan kesepiannya. Jujur, rasa yang kumiliki ini amat sangat tak nyaman. Ingin ku tanyakan padanya tentang "apa, bagaimana, maupun mengapa" . Namun, lagi lagi aku tak memiliki kemampuan untuk sekedar menanyakan hal tersebut. Bahkan ku rasa, dalam perdebatan panjangku bersama diriku sendiri sebelum apa yang terjadi sekarang, aku merasa untuk mengatakan hal itu cukuplah mudah. Ternyata ketika aku mengalami hal ini dengan nyata, hal itu tak semudah yang ku perdebatkan.
Nyaman... Aku sangat nyaman berada bersamamu, di dekatmu. Namun aku takut rasa nyamanku dipermainkan oleh diriku sendiri, yang sangat ku manjakan ini. Apakah ini ada hubungannya dengan seorang "Melankolis"? Memiliki hati yang mudah terjebak dalam sebuah rasa itu bukanlah suatu hal yang menyenangkan.  [11-09-2017]

Senin, 26 Maret 2018

Teladan Perempuan Akhir Zaman

Berbicara tentang perempuan mengingatkan kita kepada perempuan-perempuan kekasih Rosululloh SAW, yakni Sayyidah Khodijah ra., Sayyidah Aisyah ra., dan Sayyidah Fatimah ra. Mereka semua merupakan panutan generasi akhir zaman yang tidak pernah memiliki masa kadaluarsa. Saya ingin membahas mengenai peran mereka yang sebenarnya dapat dijadikan teladan bagi para perempuan dunia dalam hidup. Sayyidah Khodijah yang dengannya kita dapat belajar mengenai keikhlasan, tanggungjawab dan kasih sayang. Beliau rela memberikan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Rosululloh SAW tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan dan tanpa membutuhkan pengakuan. Beliau merupakan panutan bagi setiap perempuan masa kini dalam ukhuwah kemasyarakatan, yang meskipun beliau adalah sosok perempuan yang pada masa sekarang kerap kali di pandang sebelah mata oleh kaum adam yang dianggap kurang mampu menjadi pemimpin karena sifatnya yang terlalu perasa. Namun dapat ditepis oleh beliau Sayyidah Khodijah dengan beliau menjadi direktur (dalam bahasa sekarang) dalam perdagangan yang beliau miliki. Beliau mampu me-manage anak buahnya dengan baik, yang notabene nya anak buahnya adalah para lelaki. 
Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pada zaman rosululloh pun wanita ada yang bisa menjadi pemimpin yang adil. Sayyidah khodijah mungkin hanya sebagian kecil dari perempuan panutan yang sangat bisa di contoh oleh para perempuan dalam bermasyarakat. Sifatnya yang penuh kasih sayang dan santun membuat rosululloh sangat nyaman kepadanya. Beliau adalah benar-benar pendamping hidup rosululloh yang selalu menjadi tempat berbagi suka maupun duka, yang selalu mampu menjadi penenang rosululloh kala itu, yang kita ketahui juga bahwa rosululloh tidak menikah dengan perempuan mana pun kala sayyidah Khodijah masih hidup. Dan bahkan saat meninggalnya sayyidah Khodijah merupakan salah satu berita duka ter berat bagi rosululloh, selain meninggalnya paman beliau, Abu Tholib. Hingga disebut sebagai tahun duka cita. 
Sosok teladan kedua yakni Sayyidah Aisyah, yang merupakan istri rosululloh yang paling muda, yang juga merupakan putri dari sahabat Rosululloh sendiri, Sayyidina Abu Bakar. Hampir sama seperti sayyidina Khodijah, sayyidina Aisyah pun merupakan sosok perempuan pemberani. Beliau merupakan Ummul Mukminin, ibunya kaum mukmin. Pertanyaannya mengapa sayyidah Aisyah dikatakan sebagai Ummul Mukminin, karena dari beliau lah kita memahami berbagai ilmu yang di dapat langsung dari Rosululloh. Segala macam ilmu yang tidak beliau ketahui, dapat langsung beliau temukan jawabannya dari Rosululloh. Betapa luasnya ilmu yang beliau miliki. Bahkan, hadits-hadits rosululloh pun banyak yang kita dapatkan dari sayyidah Aisyah. Kita dapat belajar dari sayyidah Aisyah tentang ketekunan dan ketawadhuan yang selalu beliau cerminkan. 
Dengan kita mampu mencontoh akhlaq sayyidah Aisyah, diharapkan kita tidak lagi tetap beranggapan bahwa wanita tidak harus berpendidikan tinggi, toh padahal kita punya panutan yang beliau berpendidikan tinggi, ilmu beliau sangat luas. Memang benar, pada zaman dahulu beliau tidak mengenyam pendidikan dalam bentuk sekolah seperti sekarang ini, karena memang pada zamannya itu pendidikan tidak dilakukan dalam bentuk sekolah, melainkan dalam bentuk majlis. Akan tetapi yang perlu kita garis bawahi adalah bahwasanya sayyidah Aisyah merupakan perantara ilmu dari rosululloh langsung, yang sudah pasti ilmu itu datangnya merupakan wahyu dari Allah. Dan itu sudah tidak bisa diragukan lagi kebenarannya. Sayyidah Aisyah pun juga merupakan sosok yang pernah memimpin suatu perang pada waktu itu, yakni perang Jamal. Dengan pembahasan mengenai dua tokoh tersebut pun, kita sudah tau bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin suatu kelompok. 
Sosok panutan ketiga, beliau merupakan putri kesayangan rosululloh SAW. Ya, beliau adalah sayyidah Fatimah ra. Dari seorang sosok sayyidah Fathimah ini kita dapat mengambil banyak hal. Tidak hanya tentang ketaqwaan beliau kepada Allah swt, melainkan juga banyak hal. Kepribadian yang agung dari sayyidah Fatimah terdapat pada keikhlasannya dalam beramal, sama seperti yang dilakukan oleh sayyidah Khdijah maupun sayyidah Aisyah. Karena dengan keikhlasan itu sendiri akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Kasih sayang dan kelemah lembutan yang dimiliki oleh beliau pun sudah diakui oleh semua orang yang hidup pada zamannya. 
Poin penting lainnya yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian sayyidah Fatimah adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak sekali suatu prasangkaan bahwa keimanan dan ketawadhuan yang tulus kepada Allah akan menghalangi seseorang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Namun kehidupan sayyidah Fatimah mengajarkan kepada kita semua mengenai hal yang berbeda terkait dengan anggapan tersebut. Dunia menurut beliau adalah tempat kehidupan, meskipun demikian hal tersebut tidak berarti harus dikesampingkan. Dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat bahwa hati tidak tertawan oleh tipuannya.
Sayyidah Fatimah juga merupakan sosok perempuan yang mengetahui seluk beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, beliau merupakan sosok perempuan terbaik yang telah melahirkan dua putra yang terbaik juga. Hal ini berarti sudah sangat jelas, bahwa kedudukan wanita tidak dapat dianggap sepele oleh siapapun. Wanita akan selalu menjadi suatu pelopor dalam pembentukan karakter jiwa bangsa. Tanpa ada campur tangan perempuan, suatu bangsa tidak akan bisa menjadi baik. Karena terbukti lahirnya pemimpin-pemimpin yang baik adalah berasal dari didikan seorang wanita yang baik. 
Ketiga contoh wanita teladan tersebut merupakan sosok panutan yang tidak pernah lekang oleh zaman. Mereka merupakan para pioner dari adanya para pemimpin yang mendunia. Mereka bukan hanya masyhur karena kedekatannya dengan rosululloh, akan tetapi mereka masyhur lebih karena apa yang telah mereka buat untuk sekitarnya. Mereka tidak hanya para perempuan yang dikenal karena akhlaqnya, tapi juga pemikiran dan kecakapan ilmu yang mereka miliki. 
Pendidikan yang tinggi merupakan pegangan hidup seorang wanita untuk mendidik suatu generasi menjadi lebih bermartabat. Pendidikan memang bukan satu-satunya pedoman untuk menjadikan generasi masa depan yang baik, namun ada juga yakni akhlaq yang baik. Dengan seorang perempuan memiliki akhlaq yang baik, maka ia akan tau bagaimana ilmu yang didapatkannya harus digunakan. Baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk generasinya. Dengan akhlaq yang baik, perempuan mampu menempatkan ilmu pada wadah yang seharusnya.
Menjadi pioner tidak melulu karena dia selalu tampak di mata manusia. Menjadi pioner tidak melulu karena perempuan tersebut memiliki suatu komunitas atau lembaga. Tetapi, yang perlu diperhatikan dan dipahami, menjadi pioner itu adalah tentang bagaimana ia mampu mengubah apa yang harus di rubah dengan tindakan dan pemikirannya. Dan juga dapat mendidik calon generasi masa depan yang bermartabat dan berakhlaq baik, demi terciptanya pola pemikiran yang lebih baik. 

*(Surabaya, 23 Maret 2018) Ditulis oleh Nur Fathimah Rofiq, PMII Rayon Sahabat Komisariat Universitas Negeri Surabaya. Pada Kegiatan Sekolah Islam dan Gender (SIG) yang diselenggarakan oleh KOPRI PMII Rayon Ushuluddin dan Filsafat Komisariat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel pada tanggal 23-25 Maret 2018.


Rabu, 14 Februari 2018

Menerka Kalbu

Aku tidak tahu, apa ini cinta atau sekedar
rasa nyaman
Aku tidak tahu, itu sebuah ketulusan atau aku hanya
pelarian sepimu
Aku tidak tahu, rindu-rindumu nyata atau hanya
sekedar fatamorgana
Aku sempat atau bahkan sering menerka tentang
bagaimana kamu terhadapku
Sempat aku menemukan makna "iya", namun terkadang
sesaat kemudian makna itu tiba-tiba menjadi samar
Dan lagi-lagi.....
Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana...
Aku ingin menyelesaikan rasaku dengan benar
Jangan terlalu larut membuatku berada
dalam kebimbangan
Jika ingin menjauh, maka menjauhlah
sejauh-jauhnya
Hingga aku lupa bahwa pernah mengenalmu.
Jika ingin menetap, maka katakanlah
Agar aku tidak salah menjaga tempat ini...
di sudut hatiku.
Jadi....
Coba katakan apa dan bagaimana maumu....

Surabaya, 13 Februari 2018 07.30 WIB

Jumat, 12 Januari 2018

Kamu dengan semua ke "tanda tanya" anku

Aku tidak mau mengatakan ini cinta. Aku takut dengannya. Karena cinta dengan selain pada-Nya dan keluarga pernah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya dan patah sepatah-patahnya.
Jika dibolehkan, aku ingin menyebut rasa ini dengan sebutan cinta. Namun rasa takut itu bagiku lebih mencekam daripada rasa cinta itu sendiri.
Ya kau tau lah bagaimana aku pernah berurusan dengan cinta yang pilu. Aku masih harus berusaha untuk bangkit dari sebuah rasa yang pernah singgah. Percayalah, rasa itu sungguh luar biasa sakitnya. Karena itulah mungkin salah satu alasan aku takut dengan kata cinta.
Jika ditanya tentang kedalaman rasa itu sekarang, jujur, aku sudah mulai jatuh cinta dengannya. Tapi aku hanya takut. Iya, lagi-lagi takut itu hadir. Setiap kali aku merasakan jatuh dengan hati, saat itulah kenangan ke "jahat" an ku padanya hadir. *[jahat=jatuh hati].
Jika kau punya hati, maka kau akan tau atau setidaknya bisalah sedikit merasakan bagaimana punya rasa dengan orang yang sama selama sekitar lima tahun, dari sebelum kau SMA hingga kau kuliah, tanpa pernah mengungkapkan, lalu kemudian orang tersebut menikah dengan orang lain. Hmm...ya begitulah, aku tak dapat menjelaskan bagaimana rasanya itu. Kau pasti bisa meraba rasa itu.
By the way, kembali ke ketikan awalku... Jika di bilang susah move on, iyalah sudah pasti. Apalagi seorang Nova, amat sangat susah buat bisa move on. Dan kemudian selang beberapa bulan dia menikah, seorang Nova diperkenalkan-Nya dengan seseorang,  yang dengannya tiba-tiba Nova merasa nyaman, dan rasa-rasa yang lainnya.
Lalu, apakah dia yang sedang dimaksud Nova mulai jatuh cinta dengannya? Hmmm..tanpa ada pertanyaan semacam ini pun, susah pasti bisa ditebak, sudah pasti iya. Hei, ini bukan sebuah film atau sinetron yang ketika membacanya kita jadi bertanya-tanya. Ini hanyalah ketikan pribadi dari seorang Nur Fathimah Rofiq yang sudah pasti ketikan ga jelas, tanpa makna dan rak terstruktur.
Hingga saat ini, dan detik ini, Nova masih merasakan suatu keadaan yang disebut dengan "nyaman".
Btw emang Nova yakin orang yang bikin nyaman itu hatinya ga ada yang nempatin? Emang Nova yakin orangnya juga punya rasa yang sama? Kalo ternyata "you're not special for him", bagaimana? Kalo ternyata ada seseorang yang tengah ia perjuangkan dan itu bukan Nova, bagaimana? Kalo ternyata apa yang dia lakuin ke Nova itu sama kayak yang dia lakuin ke yang lain, bagaimana? Kalo ternyata selama ini itu Nova nya aja yang ke-PeDe-an dan terlalu BaPer, bagaimana? Dengan semua pertanyaan-pertanyaan "kalo" dan "bagaimana", Nova udah nemu jawaban yang pasti? Dan semua jawabannya adalah "ntah". Kaan, ngambang banget...😪
Dengan jawaban-jawaban itu, Nova masih tetep berani menetapkan hati ke orang itu? Yang bahkan dia ga pernah atau pura-pura ga peka dengan perasaan rindumu. Huuufh...
Hmmm...satu hal yang ingin ku sampaikan untuk menjawab pertanyaan paragraf sebelum ini, mungkin saja dia memang sedang sibuk dengan urusannya, atau entah sedang apa, atau karena apa, yang ku pahami adalah dia hanya pura-pura tak peduli dengan rasa rindu. Ya, walaupun misal faktanya adalah dia tak seperti uraian yang ku jawab, ya itu ku tak tau...
.
.
Yang pasti, rindu ini masih tetap untuk dan miliknya.

[Kediri, 12 Januari 2018. 14:33]