Sabtu, 20 April 2019

Bolehkah aku?

Kekasihku.. Ah, maaf aku lancang menyebutmu kekasihku.. Duhai sang calon kekasih halalku (jika Alloh menakdirkan aku hingga memasuki masa itu)... Maukah kau membantu mewujudkan satu hal inginku? Jika aku lupa nanti tolong ingatkan. Sungguh, benar² ingatkan aku soal ini. (aku berharap kau yang menjadi takdirku adalah pembaca tulisan ini)
Jika aku memilikimu nanti, eh bukan..salah...
Jika kau sudah memiliku nanti (begini yang tepat. Karena pun ketika aku halal untukmu begitupun sebaliknya, kau tetaplah milik ibumu, dan akulah yang kemudian menjadi milikmu, ah sedih π_π), pada suatu tempat yang tenang, berdua, hanya denganmu, genggam tanganku, jangan lepaskan aku, dan kemudian, izinkan aku menangis di hadapanmu layaknya seorang anak kecil, izinkan aku untuk sebentaaar saja menganggapmu sebagai ayahku, (sebelum kemudian dengan sepenuh hati mengabdikan diriku kepadamu sebagai seorang istri), dan jika kau berkenan pula jadilah engkau seolah sebagai seorang ayah untuk pertama kalinya itu untukku sebelum jadi ayah bagi calon anakmu kelak, yang kan lahir dari rahimku. Aamiin... Aku hanya butuh waktu sebentar saja untuk itu, tak akan lama, In Syaa Alloh.
Jadi biarkan aku menangis sepuasku di hadapanmu, dengan mungkin sedikit rasa canggung, karena semua hal yang akan menjadi pertama kalinya bagiku dan juga bagimu, mungkin (memegang tangan yang saat itu sudah menjadi halal untukku, berdua bersama seseorang yang melalui akadnya resmi melepaskanku dari waliku, dan banyak hal lainnya) biarkan aku seperti itu, bersikap hangatlah kepadaku, layaknya hangat kasihnya seorang ayah kepada anak. Aku ingin merasakan hangat kasih seorang ayah yang nyata. Setelah puas dengan itu, aku berjanji akan menjalankan semua kewajibanku dengan sebaik²nya, Fa In Syaa Alloh.
Jika saat ini kau masih bingung dengan inginku, tak mengapa. Nanti, kau akan tau dengan sendirinya. Yang hanya ku beri tahu saat ini, jika kau juga pernah membaca coretan-coretanku di sini, yang terkadang isinya tentang "future husband", ingin segera menikah, dsbnya, mohon maaf sebelumnya jika kalimat ini akan tidak mengenakkanmu, itu karena aku sangat merindukan, membutuhkan, dan menginginkan sosok figur seorang ayah, seseorang yang biasanya memanjakan anak perempuannya (dalam film²), seorang yang kuat, yang tak pernah menunjukkan rasa sedihnya, namun selalu berusaha untuk menjadi tempat hangat untuk anak perempuannya berbagi kisah, dan aku memang membutuhkan seseorang yang dengannya aku tak perlu malu untuk menunjukkan tentang betapa sesungguhnya lemahnya diriku. Aku membutuhkan sosok yang siap melihat diriku yang sesungguhnya amat sangat rapuh. Aku ingin menunjukkan tentang "aku" yang sebenarnya. "aku" yang bukan perempuan kuat. "aku" yang bukan perempuan tangguh. Dan "aku" yang sebenarnya membutuhkan untuk di dengar. (kepada reader yang budiman, jangan mencemoohku, karena aku yang di tulisan berbeda dengan  aku yang mungkin kalian lihat)
Meski hanya sebentar, aku tak masalah. Yang penting aku dapat menangis di hadapanmu, dan mungkin juga jika tidak capek menangis 😂✌, aku akan bercerita tentang satu hal yang tak pernah orang lain tau soal itu, bahkan keluarga dan teman dekatku sekalipun. Maaf jika itu mungkin menyakitkanmu. Karrna sungguh aku tak bermaksud seperti itu.🙏
.
.
Jadi.. Sekali lagi aku ingatkan... Tolong ingatkan aku soal satu inginku itu. Terimakasih... Uhibbuka jiddan, fillaah...
Untukmu dan untukku, untuk kita... Al Faatihah... Aaamiiin...