Semakin ku dewasa, semakin banyak pula hati yang sedang berusaha masuk ke dalam hati. Entah berusahanya karena memang hati itu ada hati denganku, atau karena diriku yang terlalu memanjakan hatiku sehingga ku menganggap sebuah hal kecil tersebut adalah rasa yang tak biasa. Aku sebenarnya tidak menyukai hal yang seperti ini, tapi aku harus bagaimana? Ya aku hanya bisa berusaha untuk tidak terlalu memanjakan hatiku. Itu saja. Aku sebenarnya memiliki satu pesan singkat untuk laki-laki. "bersikap dinginlah kepadaku. Karena aku takut salah mengartikan. Dan akhirnya membuatku lagi-lagi terjebak ke dalam rasa". Sudah, itu saja. Sebenarnya bukan hanya kepadaku, jika bisa, lakukan hal tersebut kepada semua wanita. Karena terkadang dengan sedikit kedekatan, wanita akan mudah luluh. Jadi berhati-hatilah jika kau belum/tidak berniat untuk menikahinya. Bersikap dinginlah kepada kami, agar kami pun juga dapat menjaga fitrah kami untuk yang akan halal bagi kami.
Sabtu, 02 Juni 2018
Bukan lagi dia yang Kemarin
Mungkin salahku juga yang dengan mudahnya membuka hati, yang kemudian membuatku terjebak dalam rasa yang entah harus dengan cara apa atau bagaimana aku mengkondisikannya. Maa fii qolbii ghoirulloh.. 😔
Aku tak mau dan tak ingin mendoakan dia untuk jadi apa yang mungkin jadi inginku, karena khawatir jika rasa ini tak sampai, dan terulang seperti rasa yang lalu. Aku terlalu takut untuk menyebut arti rasa ini dengan sebutan yang itu lah namanya. Aku khawatir jika yang ku rasa ini hanya perasaanku saja yang suka memanjakan perasaan.
Hanya saja, pertanyaanku... Apakah rasamu juga rasaku?
Ntah jawabannya iya atau tidak. Apakah rasa ini tepat?
Sebenarnya, inginku 'tuk bertanya tentang maksud dari semua ini. Tapi, aku tak memiliki keberanian yang lebih untuk meminta pertanggung jawabanmu tentang segala apa yang terjadi. Aku terlalu takut terluka, jika ternyata rasamu bukan rasaku. Aku terlalu takut, jika setelah kutanyakan hal ini, akan merubah semua rasa nyaman ini. Aku terlalu takut dengan semua hal yang akan merubah semua hal ini.
Sejak awal, aku sudah memprediksi akan hal ini, namun entah mengapa aku enggan beranjak menjauh. Lagi lagi aku enggan kehilangan rasa nyaman ini. Seolah aku meng "iya" kan bahwa aku lebih menyukai ketidak pastian sebuah rasa. Aku benar-benar telah memanjakan rasa yang sedang ada ini.
Ternyata menjaga hati sebelum datangnya halal itu memang amat sangat sulit.
Astaghfirulloh...
Itulah sebabnya mimpiku adalah bisa nikah muda.
Apa ada yang salah? Kalau bagiku tidak.
Dikata ngebet nikah? Iya, sok...silakan... Toh itu hal yang baik, toh itu bisa jadi penyempurna agama. Toh itu adalah ibadah.
Pertanyaannya sekarang, adakah seseorang yang pas di hati dan pemberani?
Inginku yang mungkin juga mimpiku sejak dulu, cukup simple... Ada seorang lelaki yang dengan berani langsung datang melamarku.
Bahkan cukup dengan sirri pun aku mau. Kenapa? Setidaknya sudah ada ikatan sah dan juga sudah ada yang bisa menjagaku, dan dia adalah orang yang halal.
Ya sudah dengan gentle mengambil alih peran orang tua ku dalam menafkahi dan segalanya...
Aiiiisshh.... Berbicara tentang ini selalu membuatku menangis. Iya, memang aku orang yang terlalu mudah menangis, bahkan dengan hal-hal kecil sekalipun...
Aku tak mau dan tak ingin mendoakan dia untuk jadi apa yang mungkin jadi inginku, karena khawatir jika rasa ini tak sampai, dan terulang seperti rasa yang lalu. Aku terlalu takut untuk menyebut arti rasa ini dengan sebutan yang itu lah namanya. Aku khawatir jika yang ku rasa ini hanya perasaanku saja yang suka memanjakan perasaan.
Hanya saja, pertanyaanku... Apakah rasamu juga rasaku?
Ntah jawabannya iya atau tidak. Apakah rasa ini tepat?
Sebenarnya, inginku 'tuk bertanya tentang maksud dari semua ini. Tapi, aku tak memiliki keberanian yang lebih untuk meminta pertanggung jawabanmu tentang segala apa yang terjadi. Aku terlalu takut terluka, jika ternyata rasamu bukan rasaku. Aku terlalu takut, jika setelah kutanyakan hal ini, akan merubah semua rasa nyaman ini. Aku terlalu takut dengan semua hal yang akan merubah semua hal ini.
Sejak awal, aku sudah memprediksi akan hal ini, namun entah mengapa aku enggan beranjak menjauh. Lagi lagi aku enggan kehilangan rasa nyaman ini. Seolah aku meng "iya" kan bahwa aku lebih menyukai ketidak pastian sebuah rasa. Aku benar-benar telah memanjakan rasa yang sedang ada ini.
Ternyata menjaga hati sebelum datangnya halal itu memang amat sangat sulit.
Astaghfirulloh...
Itulah sebabnya mimpiku adalah bisa nikah muda.
Apa ada yang salah? Kalau bagiku tidak.
Dikata ngebet nikah? Iya, sok...silakan... Toh itu hal yang baik, toh itu bisa jadi penyempurna agama. Toh itu adalah ibadah.
Pertanyaannya sekarang, adakah seseorang yang pas di hati dan pemberani?
Inginku yang mungkin juga mimpiku sejak dulu, cukup simple... Ada seorang lelaki yang dengan berani langsung datang melamarku.
Bahkan cukup dengan sirri pun aku mau. Kenapa? Setidaknya sudah ada ikatan sah dan juga sudah ada yang bisa menjagaku, dan dia adalah orang yang halal.
Ya sudah dengan gentle mengambil alih peran orang tua ku dalam menafkahi dan segalanya...
Aiiiisshh.... Berbicara tentang ini selalu membuatku menangis. Iya, memang aku orang yang terlalu mudah menangis, bahkan dengan hal-hal kecil sekalipun...
Langganan:
Komentar (Atom)
