*(Surabaya, 23 Maret 2018) Ditulis oleh Nur Fathimah Rofiq, PMII Rayon Sahabat Komisariat Universitas Negeri Surabaya. Pada Kegiatan Sekolah Islam dan Gender (SIG) yang diselenggarakan oleh KOPRI PMII Rayon Ushuluddin dan Filsafat Komisariat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel pada tanggal 23-25 Maret 2018.Berbicara tentang perempuan mengingatkan kita kepada perempuan-perempuan kekasih Rosululloh SAW, yakni Sayyidah Khodijah ra., Sayyidah Aisyah ra., dan Sayyidah Fatimah ra. Mereka semua merupakan panutan generasi akhir zaman yang tidak pernah memiliki masa kadaluarsa. Saya ingin membahas mengenai peran mereka yang sebenarnya dapat dijadikan teladan bagi para perempuan dunia dalam hidup. Sayyidah Khodijah yang dengannya kita dapat belajar mengenai keikhlasan, tanggungjawab dan kasih sayang. Beliau rela memberikan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Rosululloh SAW tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan dan tanpa membutuhkan pengakuan. Beliau merupakan panutan bagi setiap perempuan masa kini dalam ukhuwah kemasyarakatan, yang meskipun beliau adalah sosok perempuan yang pada masa sekarang kerap kali di pandang sebelah mata oleh kaum adam yang dianggap kurang mampu menjadi pemimpin karena sifatnya yang terlalu perasa. Namun dapat ditepis oleh beliau Sayyidah Khodijah dengan beliau menjadi direktur (dalam bahasa sekarang) dalam perdagangan yang beliau miliki. Beliau mampu me-manage anak buahnya dengan baik, yang notabene nya anak buahnya adalah para lelaki.Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pada zaman rosululloh pun wanita ada yang bisa menjadi pemimpin yang adil. Sayyidah khodijah mungkin hanya sebagian kecil dari perempuan panutan yang sangat bisa di contoh oleh para perempuan dalam bermasyarakat. Sifatnya yang penuh kasih sayang dan santun membuat rosululloh sangat nyaman kepadanya. Beliau adalah benar-benar pendamping hidup rosululloh yang selalu menjadi tempat berbagi suka maupun duka, yang selalu mampu menjadi penenang rosululloh kala itu, yang kita ketahui juga bahwa rosululloh tidak menikah dengan perempuan mana pun kala sayyidah Khodijah masih hidup. Dan bahkan saat meninggalnya sayyidah Khodijah merupakan salah satu berita duka ter berat bagi rosululloh, selain meninggalnya paman beliau, Abu Tholib. Hingga disebut sebagai tahun duka cita.Sosok teladan kedua yakni Sayyidah Aisyah, yang merupakan istri rosululloh yang paling muda, yang juga merupakan putri dari sahabat Rosululloh sendiri, Sayyidina Abu Bakar. Hampir sama seperti sayyidina Khodijah, sayyidina Aisyah pun merupakan sosok perempuan pemberani. Beliau merupakan Ummul Mukminin, ibunya kaum mukmin. Pertanyaannya mengapa sayyidah Aisyah dikatakan sebagai Ummul Mukminin, karena dari beliau lah kita memahami berbagai ilmu yang di dapat langsung dari Rosululloh. Segala macam ilmu yang tidak beliau ketahui, dapat langsung beliau temukan jawabannya dari Rosululloh. Betapa luasnya ilmu yang beliau miliki. Bahkan, hadits-hadits rosululloh pun banyak yang kita dapatkan dari sayyidah Aisyah. Kita dapat belajar dari sayyidah Aisyah tentang ketekunan dan ketawadhuan yang selalu beliau cerminkan.Dengan kita mampu mencontoh akhlaq sayyidah Aisyah, diharapkan kita tidak lagi tetap beranggapan bahwa wanita tidak harus berpendidikan tinggi, toh padahal kita punya panutan yang beliau berpendidikan tinggi, ilmu beliau sangat luas. Memang benar, pada zaman dahulu beliau tidak mengenyam pendidikan dalam bentuk sekolah seperti sekarang ini, karena memang pada zamannya itu pendidikan tidak dilakukan dalam bentuk sekolah, melainkan dalam bentuk majlis. Akan tetapi yang perlu kita garis bawahi adalah bahwasanya sayyidah Aisyah merupakan perantara ilmu dari rosululloh langsung, yang sudah pasti ilmu itu datangnya merupakan wahyu dari Allah. Dan itu sudah tidak bisa diragukan lagi kebenarannya. Sayyidah Aisyah pun juga merupakan sosok yang pernah memimpin suatu perang pada waktu itu, yakni perang Jamal. Dengan pembahasan mengenai dua tokoh tersebut pun, kita sudah tau bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin suatu kelompok.Sosok panutan ketiga, beliau merupakan putri kesayangan rosululloh SAW. Ya, beliau adalah sayyidah Fatimah ra. Dari seorang sosok sayyidah Fathimah ini kita dapat mengambil banyak hal. Tidak hanya tentang ketaqwaan beliau kepada Allah swt, melainkan juga banyak hal. Kepribadian yang agung dari sayyidah Fatimah terdapat pada keikhlasannya dalam beramal, sama seperti yang dilakukan oleh sayyidah Khdijah maupun sayyidah Aisyah. Karena dengan keikhlasan itu sendiri akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Kasih sayang dan kelemah lembutan yang dimiliki oleh beliau pun sudah diakui oleh semua orang yang hidup pada zamannya.Poin penting lainnya yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian sayyidah Fatimah adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak sekali suatu prasangkaan bahwa keimanan dan ketawadhuan yang tulus kepada Allah akan menghalangi seseorang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Namun kehidupan sayyidah Fatimah mengajarkan kepada kita semua mengenai hal yang berbeda terkait dengan anggapan tersebut. Dunia menurut beliau adalah tempat kehidupan, meskipun demikian hal tersebut tidak berarti harus dikesampingkan. Dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat bahwa hati tidak tertawan oleh tipuannya.Sayyidah Fatimah juga merupakan sosok perempuan yang mengetahui seluk beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, beliau merupakan sosok perempuan terbaik yang telah melahirkan dua putra yang terbaik juga. Hal ini berarti sudah sangat jelas, bahwa kedudukan wanita tidak dapat dianggap sepele oleh siapapun. Wanita akan selalu menjadi suatu pelopor dalam pembentukan karakter jiwa bangsa. Tanpa ada campur tangan perempuan, suatu bangsa tidak akan bisa menjadi baik. Karena terbukti lahirnya pemimpin-pemimpin yang baik adalah berasal dari didikan seorang wanita yang baik.Ketiga contoh wanita teladan tersebut merupakan sosok panutan yang tidak pernah lekang oleh zaman. Mereka merupakan para pioner dari adanya para pemimpin yang mendunia. Mereka bukan hanya masyhur karena kedekatannya dengan rosululloh, akan tetapi mereka masyhur lebih karena apa yang telah mereka buat untuk sekitarnya. Mereka tidak hanya para perempuan yang dikenal karena akhlaqnya, tapi juga pemikiran dan kecakapan ilmu yang mereka miliki.Pendidikan yang tinggi merupakan pegangan hidup seorang wanita untuk mendidik suatu generasi menjadi lebih bermartabat. Pendidikan memang bukan satu-satunya pedoman untuk menjadikan generasi masa depan yang baik, namun ada juga yakni akhlaq yang baik. Dengan seorang perempuan memiliki akhlaq yang baik, maka ia akan tau bagaimana ilmu yang didapatkannya harus digunakan. Baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk generasinya. Dengan akhlaq yang baik, perempuan mampu menempatkan ilmu pada wadah yang seharusnya.Menjadi pioner tidak melulu karena dia selalu tampak di mata manusia. Menjadi pioner tidak melulu karena perempuan tersebut memiliki suatu komunitas atau lembaga. Tetapi, yang perlu diperhatikan dan dipahami, menjadi pioner itu adalah tentang bagaimana ia mampu mengubah apa yang harus di rubah dengan tindakan dan pemikirannya. Dan juga dapat mendidik calon generasi masa depan yang bermartabat dan berakhlaq baik, demi terciptanya pola pemikiran yang lebih baik.
Senin, 26 Maret 2018
Teladan Perempuan Akhir Zaman
Langganan:
Komentar (Atom)
