Jumat, 12 Januari 2018

Kamu dengan semua ke "tanda tanya" anku

Aku tidak mau mengatakan ini cinta. Aku takut dengannya. Karena cinta dengan selain pada-Nya dan keluarga pernah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya dan patah sepatah-patahnya.
Jika dibolehkan, aku ingin menyebut rasa ini dengan sebutan cinta. Namun rasa takut itu bagiku lebih mencekam daripada rasa cinta itu sendiri.
Ya kau tau lah bagaimana aku pernah berurusan dengan cinta yang pilu. Aku masih harus berusaha untuk bangkit dari sebuah rasa yang pernah singgah. Percayalah, rasa itu sungguh luar biasa sakitnya. Karena itulah mungkin salah satu alasan aku takut dengan kata cinta.
Jika ditanya tentang kedalaman rasa itu sekarang, jujur, aku sudah mulai jatuh cinta dengannya. Tapi aku hanya takut. Iya, lagi-lagi takut itu hadir. Setiap kali aku merasakan jatuh dengan hati, saat itulah kenangan ke "jahat" an ku padanya hadir. *[jahat=jatuh hati].
Jika kau punya hati, maka kau akan tau atau setidaknya bisalah sedikit merasakan bagaimana punya rasa dengan orang yang sama selama sekitar lima tahun, dari sebelum kau SMA hingga kau kuliah, tanpa pernah mengungkapkan, lalu kemudian orang tersebut menikah dengan orang lain. Hmm...ya begitulah, aku tak dapat menjelaskan bagaimana rasanya itu. Kau pasti bisa meraba rasa itu.
By the way, kembali ke ketikan awalku... Jika di bilang susah move on, iyalah sudah pasti. Apalagi seorang Nova, amat sangat susah buat bisa move on. Dan kemudian selang beberapa bulan dia menikah, seorang Nova diperkenalkan-Nya dengan seseorang,  yang dengannya tiba-tiba Nova merasa nyaman, dan rasa-rasa yang lainnya.
Lalu, apakah dia yang sedang dimaksud Nova mulai jatuh cinta dengannya? Hmmm..tanpa ada pertanyaan semacam ini pun, susah pasti bisa ditebak, sudah pasti iya. Hei, ini bukan sebuah film atau sinetron yang ketika membacanya kita jadi bertanya-tanya. Ini hanyalah ketikan pribadi dari seorang Nur Fathimah Rofiq yang sudah pasti ketikan ga jelas, tanpa makna dan rak terstruktur.
Hingga saat ini, dan detik ini, Nova masih merasakan suatu keadaan yang disebut dengan "nyaman".
Btw emang Nova yakin orang yang bikin nyaman itu hatinya ga ada yang nempatin? Emang Nova yakin orangnya juga punya rasa yang sama? Kalo ternyata "you're not special for him", bagaimana? Kalo ternyata ada seseorang yang tengah ia perjuangkan dan itu bukan Nova, bagaimana? Kalo ternyata apa yang dia lakuin ke Nova itu sama kayak yang dia lakuin ke yang lain, bagaimana? Kalo ternyata selama ini itu Nova nya aja yang ke-PeDe-an dan terlalu BaPer, bagaimana? Dengan semua pertanyaan-pertanyaan "kalo" dan "bagaimana", Nova udah nemu jawaban yang pasti? Dan semua jawabannya adalah "ntah". Kaan, ngambang banget...😪
Dengan jawaban-jawaban itu, Nova masih tetep berani menetapkan hati ke orang itu? Yang bahkan dia ga pernah atau pura-pura ga peka dengan perasaan rindumu. Huuufh...
Hmmm...satu hal yang ingin ku sampaikan untuk menjawab pertanyaan paragraf sebelum ini, mungkin saja dia memang sedang sibuk dengan urusannya, atau entah sedang apa, atau karena apa, yang ku pahami adalah dia hanya pura-pura tak peduli dengan rasa rindu. Ya, walaupun misal faktanya adalah dia tak seperti uraian yang ku jawab, ya itu ku tak tau...
.
.
Yang pasti, rindu ini masih tetap untuk dan miliknya.

[Kediri, 12 Januari 2018. 14:33]