Senin, 13 Maret 2017

Bismillah.. Aku Ikhlas...

Kemarin adalah kekhilafanku mendoakan dia yang telah membuatku jatuh hati sekian lama, namun tak pasti. Dan kemarin adalah kekhilafanku menjadi seorang wanita yang hatinya mudah rapuh.. Astaghfirulloh.. Kini, tidak lagi kusebut nama dalam doa. Bukan karena aku tidak yakin, hanya saja aku ingin menjaga hati untuk dia yang mendoakanku dalam diamnya.
Karena jika doanya yang nantinya terkabul, aku akan sangat malu telah mendoakan orang lain yang belum tentu jodohku.
InsyaAlloh ini adalah caraku mencintai dia yang masih rahasia, mencintai dia yang Alloh pilihkan untukku nanti.

(Surabaya, 4 Februari 2016)


Taukah? bukan karena aku tak ingin lagi berharap bersamamu atau tak ingin menjadi Surgamu. Namun, semua itu lebih kepada perasaan malu ku dan kepada perasaan campur aduk yang berkecamuk dalam benakku.
Mungkin karena teringat akan banyak hal tersebut, aku mulai menyingkirkan ego ku (yang sebenarnya amat besar) untuk itu.
Sejak awal perjumpaan itu, memang hatiku terlalu cepat untuk tertaut padamu. Hingga aku merasa kau adalah jodohku. Bertahun-tahun rasa itu tumbuh hingga mendarah daging, akhirnya aku merasa cukup lelah. Aku ingin menghentikannya, namun apa jawabku? "sekuat apapun aku berusaha melepas rasaku, sekuat itu juga rasaku semakin merasuk. Dan aku tak dapat menghentikannya, kecuali jika kau sudah menemukan yang terbaik untukmu".
Astaghfirullohal'adziim...

Dan semua bayang-bayang ketakutanku yang dahulu sering membuatku bertanya-tanya, "Apakah nantinya aku sanggup jika harus melihatmu bersama dia yang pastinya jauh lebih baik dariku?", kini sudah terjawab. "Alhamdulillah.. InsyaAlloh aku mampu, karena Alloh telah menyadarkanku sebelum saat ini tiba. Alloh telah membuatku tak lagi berharap dan memaksa-Nya untuk menjodohkanku denganmu".
Akhii.. Harapanku untuk menjadi Surgamu memang telah patah. Namun InsyaAlloh aku akan selalu berusaha untuk tetap ikhlas, semenjak tak lagi ku sebut namamu dalam doa. Karena memang (sungguh) ini yang ku khawatirkan akan terjadi. Jika aku masih saja menyebut namamu, sementara Alloh tidak menggariskanmu untukku, sudah pasti diriku akan kufur nikmat dan mungkin akan menyalahkan-Nya. Astaghfirulloh.. :'(
Kini telah ku coba untuk mengikhlaskan dan menyerahkan semua pada-Nya.
Ku lepaskan rasa ini dengan lembut, bersama dengan hembusan angin fajar nan damai membawa kesejukan, dengan harapan agar damai pula hati ini, dan tanpa beban untuk melepasmu seutuhnya.

(Surabaya, 13 Maret 2017 02:38 am)